Sebagian orang menyebut Tengku atau Ustadz sebagai “pengemis berkedok agama”. Sebutan ini muncul ketika mereka menjual buku, mempromosikan kelas berbayar, atau menerima honor setelah mengajar dan berceramah. Anehnya, masyarakat menganggap wajar dan profesional ketika dokter menerima bayaran, pejabat menerima gaji, atau konsultan menerima honor.
Lantas, kenapa masyarakat menganggap guru ngaji menjual agama saat menerima bayaran? Kemudian, saat guru ngaji itu miskin, masyarakat justru menjadikannya simbol “kegagalan masa depan”. Akibatnya, banyak orang tua takut memasukkan anaknya ke dayah atau pondok, karena menganggap jadi tengku tidak punya masa depan — padahal tradisi belajar ilmu agama di dayah tetap relevan hingga hari ini.
Di sisi lain, memang ada oknum tengku/ustadz yang secara terang-terangan memasang tarif sebelum bersedia mengisi ceramah. Kita patut mengkritik sikap ini, agar orang tidak memperjualbelikan dakwah layaknya komoditas. Tugas ustadz adalah menghidupkan dakwah, bukan mencari hidup dari dakwah.
Kendati demikian, kita perlu menyikapi persoalan ini secara bijak dan objektif melalui beberapa poin penting berikut.
1. Di Balik Layar Seorang Pendakwah
Dakwah bukanlah pekerjaan yang lahir dari ruang hampa. Keberadaan segelintir oknum tidak boleh membuat kita menggeneralisasi seluruh pendakwah/tengku. Di balik satu jam ceramah yang kita dengar, terdapat pengorbanan waktu dan biaya. Sang ustadz menempuh bertahun-tahun masa belajar, membeli kitab-kitab yang sangat mahal harganya, serta menjalani perjalanan panjang.
Ada juga kebutuhan hidup yang mendesak. Seorang ustadz juga manusia biasa yang harus makan, berpakaian, berkeluarga, isi bensin, dan menunaikan tanggung jawab kepada anak istrinya.
2. Para Ulama Salaf/Terdahulu Juga Menerima Bantuan dari Umat
Siapa pun memang tidak boleh memperjualbelikan ilmu agama. Namun, menerima pemberian atau upah yang umat berikan secara sukarela bukanlah sesuatu yang merusak kemuliaan seorang ulama. Bahkan para ulama klasik telah membahas kebolehannya demi menjaga keberlangsungan pendidikan umat. Imam Malik bin Anas menerima hadiah dari khalifah Harun Ar-Rasyid dan masyarakat tanpa mengurangi ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran.
3. Hal Utama yang Harusnya Dikritik
Amplop di tangan ustadz seharusnya bukan fokus perhatian masyarakat. Fokus yang lebih penting adalah kebenaran ilmu yang ia sampaikan. Keluhuran akhlaknya dan dampak dakwah dalam membawa manusia lebih dekat kepada Allah juga tak kalah penting.
Sebab, yang merusak dakwah bukanlah keberadaan honor, melainkan hilangnya keikhlasan dan amanah. Jika ada oknum yang menjadikan mimbar sebagai ladang mencari keuntungan semata, itu adalah penyimpangan yang harus kita luruskan bersama.
4. Bantuan Umat demi Keberlangsungan Agama
Jangan terburu-buru menilai seseorang hanya dari amplop yang ia terima. Bisa jadi, amplop tersebut adalah bentuk penghormatan umat kepada orang yang menghabiskan umurnya untuk menuntut dan mengajarkan ilmu. Amplop itu juga penyokong keberlangsungan dakwah. Tanpa dukungan finansial dari umat, banyak majelis taklim dan lembaga pendidikan Islam akan kesulitan bertahan. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.
Kesimpulan
Kita tidak menutup mata dari kesalahan oknum pendakwah yang menjadikan dakwah sebagai objek bisnis demi meraup keuntungan dunia semata. Namun, kita tidak boleh menggeneralisasi seluruh pendakwah/tengku seperti itu. Berlaku adil adalah bagian dari akhlak Islam yang harus selalu kita kedepankan.
Kita menganggap sangat wajar menghargai jasa manusia dalam urusan duniawi. Maka, tentu jauh lebih wajar lagi jika kita menghargai mereka yang membimbing umat menuju kebahagiaan di akhirat.
Penulis: Tgk. Muhammad Khaidir, Lc., M.Dipl.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan mewakili sikap resmi redaksi Suara Masa.