Aceh belum benar-benar sembuh. Lumpur mungkin telah mengering di sebagian tempat, tetapi tidak dengan ingatan mereka yang kehilangan rumah, sawah, jembatan bahkan harapan. Alam belum selesai menarik napasnya, namun kita justru tampak tergesa menghitung apa yang masih tersimpan di dalam perutnya.
Entah sejak kapan pemulihan memiliki dua makna. Yang satu memulihkan kehidupan masyarakat. Ada juga memulihkan selera untuk menyenangkan hasrat.
Aneh memang. Ketika rakyat meminta perbaikan sungai, yang terdengar justru bunyi mesin. Ketika hutan berharap mendapat kesempatan untuk tumbuh, yang datang justru peta-peta baru. Seolah-olah bumi tidak pernah kelelahan, dan bencana hanyalah jeda singkat sebelum manusia melanjutkan pekerjaan lama.
Mungkin benar, Aceh kaya. Namun, kekayaan sering kali menjadi alasan paling mudah untuk lupa. Ada yang lebih berharga daripada isi perut bumi, yaitu keselamatan mereka yang hidup di atasnya.
Yang lebih menggelitik adalah kenyataan bahwa persoalan tambang bukan cerita kemarin sore. Ia telah lama menjadi rahasia yang banyak orang ketahui. Tambang legal maupun ilegal bukanlah tamu baru. Tetapi mengapa pembicaraannya baru ramai sekarang? Mengapa lampu sorot baru menyala ketika pemain sudah lama memenuhi panggung?
Ketika Pembangunan Mengabaikan Ingatan Bencana
Barangkali kita terlalu sibuk menghitung berapa yang bisa kita ambil, hingga lupa bertanya berapa yang harus kita jaga.
Pembangunan memang penting. Kita juga memerlukan investasi. Namun, pembangunan yang mengabaikan ingatan bencana ibarat membangun rumah di atas retakan sambil berharap dindingnya tidak runtuh. Mungkin berdiri hari ini, tetapi siapa yang berani menjamin esok?
Aceh tidak kekurangan kekayaan alam. Yang sering terasa kurang adalah keberanian untuk berkata, “cukup dulu, biarkan alam bernapas.” Sebab tidak semua yang bisa kita gali harus segera kita gali. Tidak semua yang menghasilkan hari ini akan menyelamatkan hari esok.
Alam yang Menulis Jawabannya Sendiri
Mungkin bumi tidak pernah mengajukan protes. Ia hanya menjawab dengan caranya sendiri. Ketika hutan hilang, sungai menemukan jalannya. Ketika gunung terluka, air mencari rumah baru. Namun ketika manusia menganggap semua itu sekadar kebetulan, alam biasanya sedang menulis catatan tersendiri. Generasi mendatang kelak akan membaca catatan itu.
Barangkali, ujian sesungguhnya bukanlah seberapa kaya negeri ini, melainkan seberapa bijak kita memperlakukan kekayaan itu.
Penulis: Muhammad Anil Alwi, S. Ag Sekretaris PC PMII Kota Lhokseumawe
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan mewakili sikap resmi redaksi Suara Masa.