Bagi masyarakat Aceh, Balai Beut (balai pengajian tradisional) bukan sekadar tempat menuntut ilmu agama. Bahkan, tempat ini adalah ruh kehidupan gampong yang membentuk karakter, moral, dan tata krama generasi muda secara turun-temurun. Dulu, selepas waktu Magrib, lantunan ayat suci Al-Qur’an dan pembahasan kitab kuning dari balai pengajian bersahut-sahutan menghidupkan suasana malam.
Namun hari ini, pelita di Balai Beut perlahan meredup. Lorong-lorong gampong yang dulunya ramai oleh anak muda yang melangkah ke balai pengajian, kini berubah menjadi sepi. Di saat yang sama, Gen Z (generasi yang lahir pada kurun 1997–2012) justru memadati warung kopi dan kafe modern di sudut-sudut gampong. Mereka duduk berjam-jam menatap layar gawai (gadget), menikmati jaringan Wi-Fi gratis, dan larut dalam obrolan santai hingga larut malam.
Desakralisasi Tradisi Mengaji
Sesungguhnya, fenomena ini menunjukkan terjadinya pergeseran nilai sosial-kultural yang cukup tajam. Ada kesan desakralisasi (penurunan nilai kesucian atau kesakralan) terhadap tradisi mengaji di mata sebagian generasi muda. Jak beut (pergi mengaji), yang dahulu menjadi kewajiban moral dan kebiasaan utama, kini mulai tersisih. Banyak anak muda menganggapnya sekadar pilihan opsional. Warung kopi berhasil memegang hegemoni (dominasi atau pengaruh yang sangat kuat) atas waktu luang anak muda. Warung kopi menawarkan ruang yang anak muda nilai lebih menarik, santai, dan modern.
Realitas sosial ini seolah membenarkan sebuah peribahasa. Masyarakat Aceh mengenalnya sebagai hadih maja (ungkapan bijak warisan leluhur), yang berbunyi: “Hina bak donya hareuta tan, hina bak Tuhan eleumee hana”. Ungkapan ini berarti “terhina di mata dunia karena tidak punya harta, dan terhina di mata Allah karena tidak punya ilmu”. Ungkapan ini menjadi pengingat keras bagi kita semua. Ketika anak muda mulai menjauhi majelis ilmu, mereka sedang mengikis fondasi spiritual yang selama ini menjadi martabat masyarakat Aceh.
Bukan Sepenuhnya Salah Gen Z
Meski demikian, kita tidak bisa serta-merta melimpahkan seluruh kesalahan kepada Gen Z. Mereka tumbuh di era komodifikasi ruang. Kafe mendesain suasana sedemikian rupa agar pengunjung merasa betah, diakui, dan terhubung dengan dunia luar. Di sisi lain, metode pembelajaran di beberapa Balai Beut gampong terkadang masih sangat kaku dan monoton. Metode itu belum mampu menjangkau pola pikir anak muda zaman sekarang.
Akibatnya, kondisi ini memicu erosi literasi (penurunan daya tangkap, pemahaman, dan minat membaca) terhadap ajaran agama. Jika kondisi ini terus berlanjut, Aceh terancam kehilangan generasi penerus. Generasi itu semestinya tidak hanya paham akan ajaran syariat, tetapi juga memiliki kedalaman akhlak.
Memodernisasi Balai Beut Tanpa Kehilangan Esensi
Oleh karena itu, kita memerlukan langkah nyata untuk mengembalikan daya tarik pengajian gampong. Balai Beut harus berani memodernisasi pendekatan pengajarannya tanpa mengubah esensi nilai yang ia ajarkan. Tengku atau guru pengaji dapat mengemas materi dengan metode diskusi interaktif yang relevan dengan persoalan Gen Z. Persoalan itu meliputi isu kesehatan mental, etika bermedia sosial, hingga pergaulan modern. Selain itu, pengelola gampong dan tokoh masyarakat juga perlu menciptakan ruang-ruang belajar yang nyaman, bersih, dan ramah anak muda.
Kesimpulan
Pergeseran minat Gen Z Aceh dari Balai Beut ke meja kafe adalah alarm keras. Ini menyangkut masa depan karakter Aceh, daerah yang menyandang julukan Serambi Mekkah. Penyelamatan tradisi jak beut tidak akan berhasil hanya dengan ancaman atau sindiran. Upaya ini justru membutuhkan pembenahan metode pengajaran agama, agar kembali relevan, hangat, dan memikat di hati generasi muda.

Penulis: Tgk. Muslem Al Usmany, S.Pd., MH.
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan mewakili sikap resmi redaksi Suara Masa.
