“Masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini.” Kalimat Malcolm X ini terdengar sederhana. Namun, ia menjadi ironi di negeri yang mewariskan korupsi sebagai tradisi turun-temurun. Bagaimana kita bisa meminta generasi muda mempersiapkan masa depan, jika negara justru sibuk menggerogoti fondasi masa depan itu sendiri?
Mesin Ketimpangan Bernama Korupsi
Korupsi bukan lagi sekadar kejahatan administratif atau penyalahgunaan anggaran. Ia telah berevolusi menjadi mesin yang memproduksi ketimpangan dan mematikan harapan. Setiap rupiah yang koruptor curi bukan hanya mengurangi kas negara. Ia juga mencuri kesempatan seorang anak memperoleh pendidikan yang layak. Peluang kerja pun hilang, dan pembangunan melambat. Korupsi bahkan menanamkan keyakinan bahwa kejujuran adalah pilihan yang merugikan.
Banyak orang sering menyebut generasi muda sebagai agen perubahan. Namun, bagaimana perubahan bisa lahir jika mereka tumbuh dalam sistem yang keliru? Sistem ini terus mengajarkan bahwa koneksi lebih berharga daripada kompetensi. Sistem ini juga mengajarkan bahwa kedekatan lebih menentukan daripada integritas. Hukum bahkan bisa tumpul ketika berhadapan dengan kekuasaan.
Paspor Masa Depan yang Kehilangan Makna
Di titik inilah “paspor” generasi muda kehilangan maknanya. Paspor seharusnya menjadi dokumen yang membuka akses menuju masa depan. Akan tetapi, di negeri yang korupsinya mengakar, paspor itu seolah hanya menjadi lembaran simbolik. Keadaan memaksa anak muda bermimpi besar. Namun, pungutan, nepotisme, dan kebijakan yang lebih melayani elite daripada rakyat memenuhi jalan menuju mimpi itu.
Yang lebih berbahaya, masyarakat perlahan menormalisasi korupsi. Berita penangkapan pejabat, vonis ringan, hingga pelaku korupsi yang tetap hidup nyaman setelah merampas hak publik membuat masyarakat terbiasa. Korupsi kini tidak lagi memunculkan kemarahan. Ia hanya menjadi konsumsi berita harian semata. Sesungguhnya, bukan hanya rasa keadilan yang sedang mati. Nurani bangsa pun ikut mati perlahan.
Fondasi Rapuh Menuju Indonesia Emas
Ironisnya, negara begitu sering menggaungkan bonus demografi sebagai modal Indonesia Emas 2045. Namun, bonus demografi tidak akan berarti apa-apa jika kita hanya mewariskan sistem yang korup kepada generasi muda. Kita tidak mungkin membangun Indonesia Emas di atas fondasi yang rapuh. Sebab, korupsi tidak pernah melahirkan kemajuan; ia hanya memperkaya segelintir orang dengan mengorbankan masa depan jutaan lainnya.
Sudah saatnya kita memandang korupsi bukan sekadar kejahatan terhadap keuangan negara. Ia adalah kejahatan terhadap masa depan bangsa. Sebab koruptor tidak hanya mencuri uang rakyat. Mereka turut mencuri waktu, kesempatan, kepercayaan, dan harapan generasi yang akan datang.
Saya sepakat dengan apa yang Malcolm X katakan: masa depan adalah milik mereka yang mempersiapkannya hari ini. Namun, di negeri yang masih memelihara korupsi, ada pertanyaan yang lebih mendesak. Bagaimana mungkin generasi muda mempersiapkan masa depan, jika mereka yang seharusnya menjaganya justru lebih dulu merampas masa depan itu?

Penulis: Muhammad Anil Alwi, S. Ag – Sekretaris PC PMII Kota Lhokseumawe
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan mewakili sikap resmi redaksi Suara Masa.