Fenomena ini makin sering muncul di dunia pendidikan pesantren belakangan ini. Seorang santri melanggar aturan, lalu ustadz menegur atau menghukum sewajarnya. Tidak lama kemudian, orang tua datang membawa laporan ke pihak luar. Sebagian lain memilih memarahi ustadz di depan santri yang lain.

Dulu, guru punya julukan istimewa: pahlawan tanpa tanda jasa. Julukan ini bukan sekadar slogan di buku pelajaran. Ia lahir dari kepercayaan penuh masyarakat kepada sosok guru sebagai pendidik sekaligus pengganti orang tua di sekolah.

Masyarakat dulu menghormati guru sepenuh hati. Kini mereka lebih sering mencurigai guru lebih dulu, sebelum mau mendengar penjelasannya.

Perlu saya tegaskan sejak awal, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun. Siapa pun wajib melaporkan kekerasan yang melampaui batas syariat dan hukum. Pihak berwenang harus menindaknya secara tegas. Tulisan ini ingin membahas pergeseran cara pandang terhadap ketegasan mendidik yang sebenarnya masih wajar.

Kenapa Kepercayaan pada Guru Bisa Berubah?

Setidaknya ada beberapa sebab yang layak kita renungkan bersama.

Pola asuh generasi ini bergeser drastis dari pola asuh generasi sebelumnya. Banyak orang tua dulu tumbuh besar dengan cara keras. Kini mereka overkompensasi ke arah serba permisif. Mereka tidak ingin anaknya merasakan apa yang mereka rasakan dulu, meski caranya jadi berlebihan.

Media sosial juga mempercepat eskalasi masalah kecil. Video pendek tanpa konteks bisa viral dalam hitungan jam. Orang tua jadi defensif duluan sebelum sempat tabayyun, mencari kebenaran utuh dari kejadian sesungguhnya.

Trauma dari kasus kekerasan berlebihan yang pernah nyata terjadi turut berperan. Pihak berwenang memang pantas menindak tegas kasus semacam itu lewat jalur hukum. Namun bekasnya membuat sebagian orang tua curiga berlebihan, bahkan pada teguran yang sebetulnya masih dalam batas wajar.

Renungan dari Kisah Lama

Ada sebuah kisah lama yang selalu relevan. Kita bisa merenungkannya dalam konteks ini. Nabi Musa suatu ketika berguru kepada Nabi Khidir. Nabi Musa berjanji akan bersabar dan tidak banyak bertanya selama proses belajar itu.

Janji itu ternyata sulit ia tepati. Setiap kali Nabi Khidir melakukan sesuatu yang tampak ganjil di mata Nabi Musa, ia langsung menegur dan mempertanyakannya. Nabi Musa menilai tindakan gurunya hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Salah satu momen paling mengejutkan terjadi di atas sebuah perahu. Nabi Khidir sengaja melubangi perahu milik orang miskin yang telah menumpangi mereka dengan baik hati. Melihat itu, Nabi Musa spontan protes keras, menganggap tindakan itu jelas merugikan pemilik perahu. Namun, Nabi Khidir hanya diam, menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan.

Belakangan barulah terungkap alasannya. Nabi Khidir ingin perahu itu tampak rusak dan tidak menarik. Sebab, seorang raja zalim tengah merampasi setiap kapal bagus di perairan itu. Tindakan yang tampak merugikan justru menyelamatkan perahu itu dari perampasan.

Kisah ini mengajarkan satu hal penting bagi kita sebagai orang tua. Proses mendidik anak kadang tampak keras dan tidak masuk akal dari luar, padahal menyimpan maksud membangun karakter. Bersikap tabayyun dan mempercayai proses jauh lebih bijak daripada menghakimi dari kejauhan.

Mengembalikan Marwah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sekali lagi saya garisbawahi, tulisan ini bukan pembelaan atas kekerasan. Siapa pun harus melaporkan kekerasan yang melampaui batas syariat dan hukum. Pihak berwenang harus menindaknya tegas, tanpa kompromi sedikit pun.

Namun, ada perbedaan besar antara ketegasan mendidik dan kekerasan yang melanggar. Teguran keras, hukuman ringan yang mendidik, atau sanksi atas pelanggaran aturan pondok bukanlah kejahatan. Itu bagian dari proses pembentukan karakter yang sudah berjalan turun-temurun di dunia pesantren.

Orang tua sebaiknya tabayyun dulu sebelum bertindak. Tanyakan langsung kepada ustadz, pahami konteksnya, lalu ambil sikap yang proporsional. Reaksi berlebihan justru mengajarkan anak untuk melawan aturan dengan mengadu ke pihak luar.

Orang tua yang terlalu melindungi anak dari konsekuensi justru merampas kesempatannya belajar tanggung jawab. Karakter yang kuat lahir dari proses yang kadang tidak nyaman, bukan dari perlindungan berlebihan yang membuatnya manja.

Julukan pahlawan tanpa tanda jasa semestinya bukan sekadar kenangan masa lalu. Kita masih bisa mengembalikannya, asalkan kita bersama-sama menjaga kepercayaan kepada guru, tanpa menutup mata pada kasus yang memang melanggar hukum.


Penulis: Tgk. H. Azwar, MH

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan bukan mewakili sikap resmi redaksi Suara Masa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *