Bencana melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa bulan lalu. Rumah dan infrastruktur runtuh. Ribuan anak kehilangan akses pendidikan. Kini, per 23 September 2026, pemerintah menjalankan pemulihan pendidikan pascabencana Sumatera secara bertahap: 4.922 sekolah terdampak sudah kembali menggelar pembelajaran.

Progres Pemulihan di Lapangan
Dari total sekolah terdampak, 4.821 unit sudah belajar lagi di gedung asalnya. Sisanya, 99 sekolah, masih memakai ruang kelas darurat. Mereka menunggu pembangunan permanen atau proses relokasi. Dua sekolah lain masih menumpang di bangunan lain.
Lima Program dan Rp5,6 Triliun Dana Pemulihan
Satuan Tugas Pemulihan dan Rekonstruksi (Satgas PRR) mengawal percepatan ini. Tito memimpin satgas tersebut. Ia melaporkan progres setiap pekan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) juga meluncurkan lima program pemulihan. Program itu mencakup pembangunan ulang sekolah, pemenuhan sarana-prasarana, bantuan guru, dukungan belajar, dan pendampingan psikososial. Pemerintah telah menyalurkan Rp5,6 triliun untuk kelima program ini. Sebanyak 3.132 unit sekolah baru sudah berdiri. Baca juga Hardikda dan Pertanyaan Besar Pendidikan Aceh soal tantangan pemerataan pendidikan di provinsi ini.
Kisah di Balik Angka Pemulihan
Angka-angka itu belum menceritakan semuanya. Banyak anak masih menyimpan trauma pascabencana. Sebagian sulit berkonsentrasi. Sebagian lain menunjukkan kecemasan berkepanjangan. Karena itu, pendampingan psikososial menjadi salah satu dari lima pilar pemulihan, bukan sekadar pelengkap.
Keluarga juga memikul beban ganda. Rumah rusak dan sekolah anak hancur bersamaan. Orang tua harus membagi perhatian dan sumber daya yang terbatas. Di sisi lain, banyak guru di wilayah terdampak juga menjadi korban bencana. Sebagian kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga. Meski begitu, mereka tetap mengajar demi murid-muridnya.
Kekhawatiran yang Belum Terjawab
Warga terdampak masih menyimpan sejumlah kekhawatiran. Mereka belum tahu pasti kapan sekolah permanen di wilayah mereka akan rampung. Informasi bantuan juga masih simpang siur. Sebagian warga kesulitan membedakan bantuan resmi dari klaim yang tidak jelas sumbernya. Banyak dari mereka juga khawatir perhatian publik akan meredup begitu isu ini tidak lagi menjadi berita utama, padahal proses pemulihan sesungguhnya masih panjang. Data terbaru Satgas PRR mencatat perkembangan ini diperbarui setiap pekan.
Pemulihan Pendidikan Pascabencana Sumatera: Yang Perlu Terus Dipantau
Pembaruan mingguan dari Satgas PRR menunjukkan sinyal positif. Proses pemulihan pendidikan di Sumatera berjalan terukur, bukan sekadar seremoni peluncuran program. Namun keberhasilan sesungguhnya akan diuji dari hal-hal yang lebih sulit diukur dengan angka. Apakah 99 sekolah di kelas darurat segera mendapat gedung permanen? Pendampingan psikososial juga perlu menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan. Perhatian terhadap wilayah ini pun harus tetap terjaga jauh setelah bencana berhenti menjadi berita viral.
Suara Masa akan terus memantau pemulihan pendidikan pascabencana Sumatera ini secara berkala. Kami akan menghadirkan kabar dari lapangan yang tidak selalu tercatat dalam laporan resmi pemerintah.