Tidak semua korban bullying pulang dengan luka atau air mata. Ada anak yang tiba-tiba lebih pendiam, sering kehilangan barang, atau enggan kembali ke sekolah maupun pesantren. Namun, setiap kali orang tua bertanya, jawabannya tetap sama: “Saya tidak apa-apa.”
Kalimat itu sering menjadi tanda pertama yang orang tua lewatkan. Banyak anak memilih bungkam karena malu, takut teman menganggapnya lemah, atau khawatir masalah akan membesar jika orang tua tahu.
Salah Langkah Bisa Membuat Anak Makin Tertutup
Saat anak akhirnya bercerita, reaksi pertama orang tua sangat menentukan. Pertanyaan seperti “Kenapa tidak melawan?” terdengar wajar, padahal bisa membuat anak merasa bersalah atas perlakuan yang ia terima.
Sebaliknya, orang tua yang langsung melampiaskan amarah kepada sekolah atau pondok belum tentu menyelesaikan masalah. Anak butuh perlindungan, dan orang tua perlu memberikannya dengan tenang.
Ada Langkah yang Lebih Tepat
Rumah Santri menyusun panduan lengkap untuk Ayah dan Bunda. Panduan ini membahas:
- 10 tanda anak mungkin mengalami bullying, termasuk tanda yang sering orang tua anggap hal biasa;
- kalimat yang sebaiknya Ayah dan Bunda ucapkan saat anak mulai bercerita;
- cara melakukan tabayyun kepada sekolah atau pesantren tanpa menyudutkan lembaga;
- alasan orang tua tidak perlu menyuruh anak membalas, serta bekal yang lebih aman untuk anak;
- langkah khusus jika bullying terjadi di pondok, saat anak jauh dari orang tua.
👉 Baca panduan lengkapnya di Rumah Santri: Cara Mengatasi Bullying pada Anak