Warisan Peradaban yang Tidak Lekang oleh Zaman
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat modern hidup dalam era yang serba cepat dan praktis. Genggaman tangan kini bisa memenuhi berbagai kebutuhan. Internet kini menyediakan akses ilmu pengetahuan. Media sosial menjadi ruang interaksi utama, dan kecerdasan buatan mulai mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan. Di tengah perubahan besar tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah masyarakat masih perlu mempertahankan tradisi lama?
Sebagai contoh, bagi masyarakat Aceh, salah satu tradisi yang tetap bertahan hingga hari ini adalah budaya beut seumeubeut. Tradisi ini merupakan aktivitas belajar dan mengajar ilmu agama. Leluhur mewariskannya secara turun-temurun melalui meunasah, balai pengajian, surau, dan dayah. Budaya ini bertahan sejak masa Kesultanan Aceh hingga sekarang. Ia menjadi fondasi penting dalam membangun karakter masyarakat Aceh yang religius dan beradab.
Pada dasarnya, beut seumeubeut bukan sekadar proses transfer ilmu dari guru kepada murid. Di dalamnya terkandung nilai-nilai pendidikan yang sangat mendalam. Nilai itu meliputi penghormatan kepada guru, kedisiplinan, kesabaran dalam menuntut ilmu, serta pembentukan akhlak yang mulia. Karena itu, tradisi ini tidak hanya melahirkan orang-orang yang berilmu. Ia juga melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat dan rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.
Sebagian kalangan mungkin beranggapan lain. Menurut mereka, pola pendidikan tradisional seperti ini sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan generasi milenial dan generasi Z. Mereka berpendapat bahwa internet kini bisa mengajarkan segala sesuatu tanpa harus duduk berjam-jam di hadapan guru. Namun kenyataannya, ilmu bukan hanya soal informasi. Ilmu juga berkaitan dengan adab, keteladanan, pengalaman, dan keberkahan yang muncul melalui interaksi langsung antara guru dan murid.
Teknologi memang mampu menyediakan jutaan informasi dalam hitungan detik. Namun, teknologi tidak mampu menggantikan sentuhan pendidikan karakter yang lahir dari hubungan emosional dan spiritual antara guru dan peserta didik. Inilah salah satu alasan mengapa budaya beut seumeubeut tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat Aceh hingga saat ini.
Dayah Ashhabul Yamin Buni dan Spirit Keilmuan yang Terus Menyala
Sebagai guru tetap di Dayah Ashhabul Yamin Buni, penulis menyaksikan hal ini secara langsung. Budaya beut seumeubeut masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Sebagai gambaran, Dayah Ashhabul Yamin terletak di Desa Tumpok Mesjid, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Dayah ini berada di salah satu kawasan pedalaman Aceh Utara. Meski begitu, semangat menuntut ilmu di tempat ini tetap tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu.
Sebagai informasi, Al-Mukarram Tgk. H. Abubakar bin H. Usman, S.Sos.I, memimpin Dayah Ashhabul Yamin. Masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan Abon Buni. Di bawah kepemimpinan beliau, dayah ini terus berupaya mempertahankan tradisi keilmuan warisan para ulama terdahulu. Dayah ini juga menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Kehidupan Belajar Mengajar di Dayah
Setiap hari, para santri mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini berpusat pada kajian kitab-kitab turats (kitab kuning) dan pembelajaran Al-Qur’an. Santri juga mendalami penguatan akidah, fikih, tasawuf, dan berbagai cabang ilmu keislaman lainnya. Namun yang paling berkesan bukan hanya materi yang santri pelajari, melainkan suasana pendidikan yang mereka bangun bersama. Dengan kata lain, hubungan antara guru dan santri tidak semata-mata hubungan akademik, tetapi juga hubungan pembinaan karakter dan akhlak.
Penulis melihat bahwa budaya beut seumeubeut di dayah tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual. Tradisi ini juga menanamkan nilai kesederhanaan, penghormatan kepada orang tua, kecintaan kepada agama, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan utama pendidikan dayah. Sistem pembelajaran yang hanya mengandalkan teknologi digital jarang menghadirkan nilai serupa.
Menariknya, generasi muda saat ini tetap menunjukkan minat yang tinggi terhadap tradisi tersebut. Banyak santri aktif menggunakan media sosial dan teknologi informasi. Pada saat yang sama, mereka tetap tekun mengikuti pengajian dan majelis ilmu. Fenomena ini membuktikan bahwa modernitas dan tradisi tidak harus saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama masyarakat menempatkannya secara proporsional.
Dalam berbagai kesempatan, masyarakat sekitar juga turut berpartisipasi dalam kegiatan pengajian dan majelis taklim. Dayah rutin menyelenggarakan kegiatan ini. Kehadiran masyarakat dari berbagai usia menunjukkan hal penting. Budaya beut seumeubeut bukan hanya milik kalangan santri, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Aceh secara luas.
Mengapa Beut Seumeubeut Masih Relevan bagi Generasi Milenial?
Sebagai catatan, generasi milenial dan generasi Z hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda ketimbang generasi sebelumnya. Mereka menghadapi banjir informasi, perubahan sosial yang cepat, serta berbagai tantangan moral yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, budaya beut seumeubeut justru memiliki relevansi yang semakin kuat.
Pertama, budaya ini mengajarkan literasi keagamaan yang benar dan mendalam. Di era media sosial, orang bisa memperoleh informasi keagamaan dari mana saja. Namun, tidak semua sumber bisa mempertanggungjawabkan kebenarannya. Melalui beut seumeubeut, generasi muda belajar agama secara sistematis dengan bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Kedua, budaya ini menjadi sarana pembentukan karakter. Sebagai catatan, banyak persoalan sosial yang terjadi saat ini berakar pada krisis moral dan lemahnya pendidikan akhlak. Tradisi beut seumeubeut mengajarkan adab sebelum ilmu, menghormati guru, menghargai sesama, serta membiasakan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, budaya ini turut memperkuat ikatan sosial masyarakat. Ketika orang-orang berkumpul dalam majelis ilmu, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan membangun solidaritas sosial. Di saat kehidupan modern cenderung membuat individu semakin sibuk dengan dunianya masing-masing, beut seumeubeut menghadirkan ruang kebersamaan yang sangat bernilai.
Beut Seumeubeut sebagai Warisan Peradaban
Keempat, budaya ini menjadi benteng terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di era digital. Dengan pemahaman agama yang baik dan karakter yang kuat, generasi muda akan lebih mampu menyaring informasi. Mereka juga lebih mampu menghindari paham-paham yang menyimpang serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, anggapan bahwa tradisi beut seumeubeut telah usang dan tidak relevan merupakan pandangan yang kurang tepat. Justru di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat membutuhkan nilai-nilai dalam tradisi tersebut. Nilai itu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pembangunan karakter manusia.
Secara keseluruhan, beut seumeubeut bukan sekadar warisan budaya, melainkan warisan peradaban. Tradisi ini telah membentuk identitas masyarakat Aceh selama berabad-abad. Tradisi ini juga terus memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak. Generasi ini pun bertanggung jawab terhadap agama, bangsa, dan masyarakat.
Pengalaman yang penulis saksikan secara langsung di Dayah Ashhabul Yamin Buni menunjukkan bahwa tradisi ini masih hidup. Masyarakat masih mencintai dan membutuhkan tradisi ini. Selama ada guru yang mengajar dengan ikhlas dan santri yang belajar dengan sungguh-sungguh, tradisi ini akan tetap hidup. Selama masyarakat juga menghargai ilmu, budaya ini akan tetap hidup. Beut seumeubeut akan tetap menjadi cahaya yang menerangi perjalanan masyarakat Aceh di masa kini dan masa depan.
Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq.

Penulis: Tgk. Fadil Fadli, S.Pd., M.Sos Guru Tetap Dayah Ashhabul Yamin Buni