SUARAMASA.ID | ACEH UTARARibuan jamaah bershalawat di Aceh Utara pada pengajian rutin malam Jumat yang berlangsung di Dayah Ashhabul Yamin, Gampong Tumpok Mesjid, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara. Tgk. H. Abubakar, S.Sos.I, yang akrab disapa Abon Buni, memimpin langsung majelis tersebut dan mengajak jamaah memperbanyak 10.000 shalawat sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Sejak selepas salat Isya, jamaah terus berdatangan. Mereka memenuhi kompleks dayah dengan satu tujuan, yaitu menghidupkan malam Jumat melalui shalawat kepada Rasulullah ﷺ.

Abon Buni Ajak Jamaah Tidak Pernah Melupakan Rasulullah ﷺ

Sebelum jamaah memulai bacaan shalawat, Abon Buni menyampaikan pesan yang mengajak umat Islam menjaga hubungan hati dengan Rasulullah ﷺ.

Menurut beliau, seorang muslim tidak cukup mengaku mencintai Nabi Muhammad ﷺ hanya melalui ucapan. Setiap muslim perlu membuktikan kecintaan itu dengan memperbanyak shalawat, mengikuti akhlak beliau, dan selalu menghadirkan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita wajib dekat dengan Baginda Rasulullah ﷺ sebagai bukti bahwa kita benar-benar mencintai beliau. Jangan pernah sehari pun kita melupakan Baginda,” ujar Abon Buni.

Beliau kemudian mengingatkan jamaah agar mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.

“Ketika kita ditanya, Man Nabiyyuka? Siapa nabimu? Semoga kita mampu menjawab dengan penuh keyakinan: Muhammad ﷺ. Karena itu, jangan pernah jauh dari Rasulullah. Biasakan hati dan lisan selalu mengingat beliau,” pesannya.

Abon Buni juga mengajak jamaah merenungkan besarnya perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.

“Semua nikmat iman yang kita rasakan hari ini sampai kepada kita melalui perjuangan Baginda Rasulullah ﷺ. Karena itu, jangan pernah melupakan beliau. Ikutilah jalan yang beliau ajarkan agar Allah selalu memberikan rahmat kepada kita,” tuturnya.

Ribuan Jamaah Larut dalam 10.000 Shalawat

Usai tausiah, jamaah mulai membaca 10.000 shalawat dengan penuh kekhusyukan. Setiap orang memusatkan hati dan pikirannya kepada Rasulullah ﷺ. Suasana majelis terasa tenang, teduh, dan penuh penghayatan.

Sebagian jamaah menggenggam tasbih dengan erat. Sebagian lainnya memejamkan mata sambil terus melafalkan shalawat. Beberapa jamaah tampak menyeka air mata ketika mengenang perjuangan Rasulullah ﷺ dalam menyampaikan agama Allah.

Tidak seorang pun datang untuk mencari pujian. Tidak ada yang membedakan kedudukan, jabatan, ataupun harta. Semua duduk bersama sebagai hamba Allah yang sama-sama berharap memperoleh rahmat-Nya melalui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kasih Sayang kepada Umat

Kecintaan umat kepada Rasulullah ﷺ tumbuh karena pengorbanan beliau yang begitu besar. Sejarah mencatat bagaimana beliau tetap menunjukkan kasih sayang meskipun menghadapi hinaan, penolakan, dan berbagai penderitaan ketika menyampaikan risalah Islam.

Beliau tidak memilih membalas keburukan dengan keburukan. Sebaliknya, beliau terus mendoakan umat manusia agar memperoleh hidayah dan mengenal Allah SWT. Para ulama juga menjelaskan bahwa hingga akhir hayatnya, Rasulullah ﷺ tetap memikirkan keselamatan umatnya.

Karena itulah, umat Islam menjadikan shalawat sebagai ungkapan cinta, rasa syukur, dan penghormatan kepada manusia pilihan Allah yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi tegaknya agama Islam.

Pengajian Malam Jumat Terus Menguatkan Keimanan

Pengajian rutin malam Jumat di Dayah Ashhabul Yamin terus menguatkan keimanan masyarakat sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah. Ribuan jamaah terus menghadiri majelis tersebut sebagai bagian dari ikhtiar memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.

Malam itu akhirnya berlalu. Namun pesan Abon Buni terus membekas di hati jamaah. Jangan biarkan satu hari pun berlalu tanpa mengingat Rasulullah ﷺ. Sebab, cinta kepada beliau tidak hanya lahir melalui ucapan, tetapi juga tumbuh melalui shalawat, akhlak yang baik, dan usaha untuk mengikuti jalan yang beliau ajarkan.

Boleh jadi, di antara ribuan shalawat yang terucap malam itu, ada satu shalawat yang lahir dari hati yang paling tulus. Shalawat itulah yang menjadi saksi kerinduan seorang hamba kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *