ACEH UTARA – Ada rumah yang mulai terasa berbeda sejak hari ini. Tempat tidur seorang anak mungkin masih tertata, pakaiannya masih tersisa di lemari, tetapi suara yang biasanya terdengar di dalam rumah perlahan menghilang setelah orang tua mengantarkan anaknya untuk mondok.

Sebanyak 269 santri baru Dayah Ashhabul Yamin resmi memasuki asrama setelah menyelesaikan proses kelulusan dan daftar ulang. Mereka terdiri atas 153 santri laki-laki dan 116 santri perempuan.

Santri perempuan lebih dahulu memasuki asrama pada Selasa (14/7/2026). Sementara itu, santri laki-laki mulai menempati asrama pada Rabu (15/7/2026) di Dayah Ashhabul Yamin, Gampong Tumpok Mesjid, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara.

Hari itu bukan sekadar jadwal masuk asrama.

Bagi sebagian orang tua, hari tersebut menjadi waktu ketika mereka harus belajar melepaskan anak yang selama ini hampir selalu berada di depan mata.

Orang Tua Mengantar dengan Harapan, Lalu Pulang Membawa Rindu

Sejak kedatangan para santri, wali mulai memenuhi lingkungan Dayah Ashhabul Yamin. Mereka membawa pakaian, perlengkapan mengaji, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai barang yang akan menemani kehidupan anak selama di asrama.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah dapat dimasukkan ke dalam tas anak: rasa rindu orang tua.

Sebagian ibu terlihat sibuk merapikan barang bawaan anaknya. Berkali-kali mereka memeriksa pakaian, memastikan perlengkapan mandi tersedia, lalu kembali mengingatkan hal-hal kecil yang mungkin sudah berulang kali disampaikan dari rumah.

“Jangan lupa makan.”

“Jaga kesehatan.”

“Belajar yang rajin.”

Pesannya sederhana. Namun, bagi seorang ibu yang sebentar lagi harus pulang tanpa anak di sampingnya, kalimat-kalimat kecil itu sering menjadi cara terakhir untuk menahan perasaan.

Para ayah mungkin terlihat lebih tenang. Mereka membantu mengangkat barang, melihat keadaan asrama, kemudian berdiri sambil memperhatikan anaknya dari kejauhan.

Tidak banyak kata yang keluar.

Namun, bukan berarti tidak ada rasa berat.

Ada orang tua yang tersenyum ketika berpamitan agar anaknya tidak ikut sedih. Setelah berbalik dan melangkah meninggalkan dayah, mungkin hanya mereka sendiri yang mengetahui seberapa berat perjalanan pulang hari itu.

Dokumentasi Suasana Santri Baru

Suasana kedatangan dan hari pertama santri baru mulai menjalani kehidupan mondok di Dayah Ashhabul Yamin terekam dalam dokumentasi video.

🎥 Saksikan suasana santri baru mulai mondok di Dayah Ashhabul Yamin

Malam Pertama, Dua Tempat Sama-Sama Belajar Menahan Rindu

Ketika malam tiba, santri baru mulai mengenal kehidupan asrama. Tidak ada lagi kamar yang sama seperti di rumah dan tidak selalu ada ibu yang mengingatkan untuk makan atau beristirahat.

Di tempat lain, orang tua juga mulai merasakan suasana berbeda.

Mungkin ada seorang ibu yang tanpa sadar melihat kamar anaknya.

Mungkin ada ayah yang ingin memanggil nama anaknya, kemudian teringat bahwa malam ini anak tersebut sudah berada di dayah.

Meja makan terasa memiliki satu tempat yang kosong. Suara gaduh yang dahulu kadang membuat lelah justru menjadi sesuatu yang paling dirindukan ketika tidak lagi terdengar.

Begitulah perpisahan seorang anak dengan orang tua untuk menuntut ilmu.

Anak belajar hidup jauh dari rumah. Sementara orang tua belajar menjalani hari tanpa melihat anaknya setiap saat.

Keduanya sama-sama belajar.

Keduanya juga sama-sama menahan rindu.

Mondok Mengajarkan Anak Tumbuh Perlahan

Kehidupan dayah kini menjadi bagian dari perjalanan 269 santri baru tersebut. Mereka akan bangun bersama, shalat berjamaah, mengaji, belajar, makan, dan menjalani aturan yang sama.

Hari-hari pertama mungkin tidak mudah.

Ada santri yang cepat mendapatkan teman. Namun, sebagian lainnya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenal lingkungan dan menyesuaikan diri.

Rasa rindu kepada rumah juga dapat datang tanpa mengenal waktu. Kadang, seorang anak baru menyadari betapa dekatnya ia dengan keluarga ketika jarak mulai memisahkan.

Di sinilah proses pendidikan berjalan.

Santri belajar bahwa tidak semua kebutuhan selalu tersedia secepat ketika berada di rumah. Mereka mulai merapikan keperluan sendiri, menjaga barang, mengatur waktu, dan belajar hidup bersama banyak orang.

Perlahan, teman sekamar menjadi sahabat. Tengku dan guru menjadi tempat belajar, sedangkan lingkungan dayah mulai menjadi rumah kedua.

Di Balik 269 Santri, Ada 269 Keluarga yang Menitipkan Doa

Masuknya 269 santri baru Dayah Ashhabul Yamin tidak hanya menambah jumlah penghuni asrama. Setiap anak membawa cerita dan harapan dari rumah masing-masing.

Ada orang tua yang mungkin telah lama mempersiapkan anaknya untuk mondok. Ada pula yang baru benar-benar merasakan beratnya berpisah ketika harus meninggalkan anak di depan asrama.

Namun, mereka datang membawa satu harapan yang hampir sama.

Orang tua ingin anaknya belajar agama.

Mereka ingin anaknya mengenal adab.

Mereka berharap anak yang hari ini dilepas dengan air mata kelak pulang membawa ilmu dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Tidak semua orang tua mampu memberikan banyak harta kepada anaknya. Namun, sebagian dari mereka memilih memberikan jalan pendidikan dengan cara menahan rindu untuk beberapa waktu.

Mereka rela rumah menjadi lebih sepi.

Mereka rela tidak melihat anak setiap hari.

Sebab, di balik rasa berat itu, tersimpan harapan agar masa depan anak menjadi lebih baik.

Jika Malam Ini Rumah Terasa Sepi, Anak Sedang Memulai Perjalanannya

Hari ini, santri laki-laki mulai menempati asrama. Sehari sebelumnya, santri perempuan telah lebih dahulu menjalani hari pertama mereka sebagai penghuni dayah.

Setelah seluruh wali pulang, kehidupan Dayah Ashhabul Yamin perlahan kembali berjalan. Jadwal belajar, mengaji, ibadah, dan aktivitas asrama akan mulai membentuk keseharian para santri baru.

Mungkin malam ini ada anak yang diam-diam menangis karena teringat ibunya.

Di rumah, mungkin ada ibu yang juga menahan air mata karena teringat anaknya.

Jarak membuat keduanya tidak saling melihat.

Namun, doa sering menemukan jalan meski tanpa suara.

Bagi wali santri yang malam ini merasa rumahnya lebih sunyi, anak yang dirindukan itu sedang memulai perjalanan panjang dalam menuntut ilmu.

Mungkin hari ini ia masih menangis ingin pulang.

Mungkin beberapa hari ke depan ia masih bertanya kapan orang tuanya datang.

Namun, berikan mereka waktu untuk tumbuh.

Sebab, anak yang hari ini dilepas dengan berat hati, insyaallah suatu hari akan pulang membawa sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan harta: ilmu, adab, dan doa yang kelak menjadi harapan orang tuanya.

Kini, 269 santri baru Dayah Ashhabul Yamin telah memulai kehidupan di asrama.

Di dayah, anak-anak sedang belajar menjadi santri.

Sementara di rumah, orang tua sedang belajar satu hal yang mungkin jauh lebih berat: mencintai anak dari kejauhan dan menitipkannya dalam doa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *