Ilustrasi alat AI NAVI-HF deteksi dini gagal jantungInovasi AI dokter Indonesia untuk deteksi dini gagal jantung

Seorang dokter spesialis jantung asal Indonesia berhasil mengembangkan alat berbasis kecerdasan buatan. Alat ini mendeteksi dini risiko perburukan pada pasien gagal jantung. Alat tersebut bernama Novel Auscultation Device of Artificial Intelligence for Heart Failure, dengan singkatan NAVI-HF.

Dr. dr. Rony Marethianto Santoso, Sp.JP, Subsp.K.I(K), FIHA, mengembangkan alat ini sebagai bagian dari riset disertasi doktoralnya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selanjutnya, ia mempresentasikan hasil penelitiannya dalam sidang terbuka promosi doktor pada Selasa, 14 Juli 2026. Dokter yang berpraktik di Primaya Hospital Tangerang ini juga menjabat sebagai konsultan kardiovaskular intervensi.

Indonesia Peringkat Kedua Kasus Gagal Jantung di Asia

Penelitian ini muncul dari persoalan serius yang Indonesia hadapi. Berdasarkan data Asian-HF Registry, Indonesia menempati posisi kedua di Asia untuk jumlah kasus gagal jantung terbanyak, setelah Tiongkok. Tingkat kematian dalam satu tahun bahkan mencapai 34,1 persen.

Selain itu, sekitar 30 persen pasien gagal jantung harus kembali menjalani perawatan setelah kondisinya memburuk pascapulang. Rony menemukan bahwa penyebab utama tingginya angka rawat ulang ini adalah kongesti paru. Kongesti paru adalah penumpukan cairan di paru-paru yang bersifat subklinis.

“Salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya masih ada cairan atau kongesti,” ujar Dr. Rony. Kondisi ini seringkali tidak terdeteksi saat pemeriksaan menggunakan stetoskop konvensional, karena keterbatasan kemampuan pendengaran manusia.

Cara Kerja NAVI-HF Merekam Suara Paru-paru

Berbeda dari stetoskop biasa, NAVI-HF memanfaatkan algoritma AI untuk menganalisis suara paru-paru pasien secara lebih presisi. Alat ini merekam suara dada pasien dari lima titik pemeriksaan berbeda, dengan durasi perekaman sekitar satu menit saja.

Selain akurat, keunggulan lain NAVI-HF terletak pada kepraktisannya. Alat ini portabel, sederhana, dan tidak membutuhkan biaya besar maupun tenaga medis terlatih khusus. Kondisi ini berbeda dengan metode Lung Ultrasound atau tes darah NT-proBNP, yang selama ini menjadi standar pemeriksaan lebih akurat.

Hasil Uji Klinis Menunjukkan Akurasi Tinggi

Tim peneliti menguji NAVI-HF pada 246 pasien gagal jantung akut di sejumlah rumah sakit rujukan di Indonesia. Hasilnya, alat ini mencatat akurasi 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen. Tim peneliti membandingkan angka ini dengan Lung Ultrasound sebagai standar acuan medis.

Bahkan, pemantauan selama enam bulan turut menunjukkan temuan penting. Pasien dengan hasil NAVI-HF positif memiliki risiko 1,6 kali lebih tinggi mengalami rawat ulang, ketimbang pasien dengan hasil negatif.

Bukan Pengganti Dokter, Melainkan Alat Bantu

Rony menegaskan bahwa tim tidak merancang NAVI-HF untuk menggantikan peran dokter. Sebaliknya, alat ini justru memperkuat kemampuan dokter dalam mengambil keputusan yang lebih akurat sebelum pasien pulang dari rumah sakit.

Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti berencana mengembangkan NAVI-HF agar dapat terhubung dengan layanan cloud. Dengan begitu, dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh melalui layanan telemedicine dan pemantauan berbasis rumah. Pasien pun tidak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin.


Penulis: bysuaramasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *