Lhoksukon – Suara Masa. Pembangunan huntap Aceh Utara untuk penyintas banjir masih jalan di tempat. Pemerintah menargetkan 505 unit hunian tetap tahun ini. Namun, pekerja baru bisa menggarap 34 unit di satu lokasi. Jumlah itu hanya 6,7 persen dari target.

Ketua Tim Aceh 1, Laksma TNI Nouldy J. Tangka, mengungkap data tersebut pada Rabu (24/9/2026). Menurutnya, masalah terbesar ada pada urusan lahan.

Masalah Lahan Hambat Huntap Aceh Utara

Sebanyak 471 unit atau 93,3 persen masih menunggu penilaian harga lahan (appraisal). Selain itu, pengadaan lahan di enam lokasi belum tuntas. Proyek akses jembatan penunjang juga baru mencapai sekitar 5 persen.

Nouldy menilai sebagian besar hambatan bersifat administratif. Karena itu, ia meminta semua lembaga mempercepat koordinasi. Tanpa langkah cepat, pemulihan warga akan makin lambat.

Butuh 4.827 Unit dan Rp1,4 Triliun

Sebenarnya, 505 unit itu baru sebagian kecil dari kebutuhan. Secara keseluruhan, Aceh Utara membutuhkan 4.827 unit huntap. Perkiraan anggarannya mencapai sekitar Rp1,40 triliun.

Sementara itu, pemerintah menargetkan huntap tahap ini rampung pada 9–16 Januari 2027. Artinya, waktu yang tersisa kurang dari empat bulan.

Se-Aceh Baru 4,9 Persen

Masalah serupa juga terjadi di daerah lain. Per akhir Juli 2026, Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) mencatat kebutuhan huntap di seluruh Aceh mencapai 37.373 unit.

Dari jumlah itu, 1.832 unit atau 4,9 persen masih dalam pembangunan. Adapun unit yang sudah selesai baru 401. Pemerintah mengalokasikan Rp2 triliun untuk tahun 2026.

Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas PRR, Safrizal ZA, juga menyebut lahan sebagai kendala utama. Contohnya di Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

Penyintas Masih Menunggu

Bagi warga, penantian ini terasa sangat panjang. Media lokal melaporkan masih ada keluarga penyintas di Aceh Utara yang tinggal di tenda darurat. Mereka bertahan di sana hampir setahun setelah banjir.

Pertengahan September lalu, BNPB berjanji menyelesaikan huntap yang mangkrak di daerah ini. Kini warga menunggu janji itu terwujud.

Lhokseumawe Mulai Bergerak

Berbeda dengan Aceh Utara, Kota Lhokseumawe sudah bersiap membangun. Dinas PUPR Lhokseumawe menjadwalkan peletakan batu pertama dalam waktu dekat. Lokasinya di Gampong Cut Mamplam, Kecamatan Muara Dua, dan Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu.

Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas PUPR Lhokseumawe, Furqan, menargetkan konstruksi selesai pada akhir Desember 2026.

Kabar Baik dari Tambak

Meski huntap lambat, sektor perikanan Aceh Utara justru bangkit. Pemulihan lahan budidaya ikan sudah mencapai 304,79 hektare. Angka itu menjadi yang terluas di Aceh.

Pada akhirnya, publik kini menanti tenggat Januari 2027. Jika pemerintah gagal menuntaskan urusan lahan, penyintas harus menunggu huntap Aceh Utara lebih lama lagi. Bagi mereka, setiap bulan penundaan berarti hidup tanpa kepastian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *