Sebuah kisah inspiratif datang dari Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dr. Surni, S.E., M.Si., resmi tercatat sebagai perempuan pertama dari suku Bajo yang berhasil meraih gelar doktor. Kini, ia menjabat sebagai Wakil Rektor II di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi.

Masyarakat mengenal Suku Bajo sebagai suku pengembara laut, hidup di rumah panggung yang berdiri di atas air. Surni lahir pada 1977 dan turut merasakan langsung kehidupan khas suku Bajo sejak kecil. Sekolah dasar kala itu hanya tersedia di daratan, sementara warga sangat sulit menjangkau akses ke sana.

Akses Pendidikan yang Sulit, Berujung Pernikahan Dini

Keterbatasan akses dan rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan membuat banyak anak suku Bajo tidak menamatkan sekolah dasar. Jangankan melanjutkan ke jenjang SMP, menyelesaikan SD saja sudah menjadi tantangan besar bagi anak-anak seusia Surni kala itu.

Putus sekolah pada masa remaja umumnya berujung pada pernikahan dini di kalangan suku Bajo. Fenomena ini bahkan masih terjadi hingga sekarang. “Di sini anak-anak tamat SMP itu langsung banyak yang kawin,” ungkap Surni.

Didukung Penuh Orang Tua untuk Terus Sekolah

Berbeda dari kebanyakan orang tua di kampungnya, kedua orang tua Surni justru mendorongnya untuk terus melanjutkan pendidikan. Mereka mengingatkan Surni agar tidak mengikuti jejak teman-teman sebayanya yang menikah muda dan hanya mengurus anak atau melaut mencari nafkah.

Selain keterbatasan akses, suku Bajo juga kerap menghadapi perundungan dari masyarakat daratan. Meski begitu, Surni tetap teguh mengejar pendidikannya hingga meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Kendari. Ia kemudian lolos seleksi pegawai negeri sipil di kampung halamannya pada 2006.

Membangun Sekolah di Tengah Laut untuk Kampung Halaman

Alih-alih berpuas diri dengan pencapaiannya sendiri, Surni justru bergerak membangun pendidikan bagi kampung halamannya. Bersama rekan-rekannya di Muhammadiyah, ia mendirikan sekolah-sekolah di perkampungan suku Bajo yang berdiri di atas laut Wakatobi.

Pada 2011, upaya mereka membuahkan hasil nyata lewat berdirinya SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi dan SMA Muhammadiyah 2 Wakatobi. Kedua sekolah ini berdiri kokoh di tengah permukiman suku Bajo. Surni sendiri terus melanjutkan pendidikannya hingga akhirnya meraih gelar doktor.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah turut menyoroti kisah inspiratif ini dalam sebuah kesempatan publik. Ia menegaskan bahwa pendidikan telah membangun mimpi besar bagi anak-anak suku Bajo. Kisah ini sekaligus membuktikan bahwa masyarakat pesisir sekalipun mampu meraih jenjang pendidikan tertinggi.


Penulis: bysuaramasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *