Pelantikan Pengurus HUDA Aceh Utara periode 2025–2030 menjadi momentum yang patut disyukuri. Pelantikan ini berlangsung dalam suasana 800 tahun Samudera Pasai, mengingatkan kita bahwa tanah Pasee memiliki sejarah panjang sebagai pusat ilmu, dakwah, dan peradaban Islam.
Pernyataan Bupati Aceh Utara yang mendorong HUDA menjadi mitra strategis pemerintah patut mendapat perhatian. Gagasan ini bukan sekadar penting, tetapi sangat relevan dengan karakter kepemimpinan dalam Islam.
Momentum di Tengah 800 Tahun Samudera Pasai
Rasulullah SAW memberikan teladan bahwa kepemimpinan tidak dibangun dengan kekuasaan semata, tetapi dengan keteladanan, komunikasi, kasih sayang, dan musyawarah. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Rasulullah bersikap lembut dan bermusyawarah dengan para sahabat dalam menghadapi berbagai persoalan.
Dalam perspektif komunikasi kepemimpinan, pemimpin yang baik bukan hanya pandai menyampaikan pesan, tetapi juga mampu mendengar, melibatkan, dan membangun kepercayaan dengan orang-orang yang dipimpinnya.
Ulama dan Pemerintah, Dua Kekuatan yang Saling Melengkapi
Di sinilah kemitraan pemerintah dengan HUDA menjadi sangat strategis. Pemerintah memiliki kewenangan dan program, sementara ulama memiliki ilmu, pengalaman, dan kepercayaan masyarakat. Keduanya bukan untuk saling menggantikan, tetapi untuk saling melengkapi.
Ibarat sebuah kapal, pemerintah memiliki nahkoda dan perangkat untuk menggerakkannya, sementara ulama dapat menjadi kompas moral yang membantu memastikan arah pelayaran tetap menuju tujuan yang benar.
HUDA dan Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh Utara
Aceh memiliki kekhususan dalam pelaksanaan syariat Islam. Pelaksanaan syariat tentu tidak cukup hanya dengan regulasi dan kebijakan — ia membutuhkan komunikasi, pendidikan, keteladanan, dan pembinaan masyarakat.
Karena itu, HUDA layak menjadi salah satu mitra penting pemerintah dalam berbagai program yang berkaitan dengan syariat Islam, pendidikan karakter, pembinaan generasi muda, penguatan keluarga, pemberdayaan dayah, pembangunan sosial, dan program kemasyarakatan lainnya.
Membangun Komunikasi Dua Arah
Dalam konteks komunikasi kepemimpinan, hubungan ini sebaiknya dibangun melalui komunikasi dua arah. Pemerintah tidak hanya menyampaikan program kepada ulama, tetapi juga mendengarkan pandangan dan pengalaman para guru dayah.
Sebaliknya, HUDA tidak hanya memberikan pandangan keagamaan, tetapi ikut membantu menjembatani kebijakan pemerintah dengan realitas masyarakat.
Musyawarah, Kekuatan Bukan Kelemahan Pemimpin
Rasulullah SAW juga menunjukkan bahwa musyawarah bukan tanda kelemahan seorang pemimpin. Justru musyawarah merupakan cara untuk menghimpun pengetahuan dan pengalaman orang lain sebelum mengambil keputusan. Pemimpin yang kuat bukan yang merasa mengetahui semuanya, tetapi yang tahu kepada siapa ia harus bertanya.
Menggandeng HUDA bukan berarti pemerintah kehilangan kewenangan. Sebaliknya, pemerintah sedang memperkuat kebijakannya dengan perspektif keilmuan dan kearifan para ulama. Begitu pula HUDA tidak perlu mengambil ruang pemerintah — peran ulama adalah memberikan ilmu, nasihat, keteladanan, dan pertimbangan moral, sehingga pembangunan tidak hanya menghasilkan kemajuan fisik, tetapi juga melahirkan manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Dayah, Mata Air Ilmu dan Akhlak
Dayah ibarat mata air. Ia mungkin mengalir dalam kesederhanaan, tetapi telah menghidupi banyak generasi. Menggandeng HUDA berarti mendekatkan pembangunan kepada mata air ilmu dan pembinaan akhlak yang telah lama hidup di tengah masyarakat Aceh.
Sinergi Menuju Kemaslahatan Masyarakat
Momentum 800 tahun Samudera Pasai bukan hanya mengajak kita mengenang kejayaan masa lalu, tetapi juga bertanya: peradaban seperti apa yang ingin kita bangun hari ini?
Jawabannya membutuhkan sinergi — pemerintah dengan kebijakannya, ulama dengan ilmunya, dayah dengan pendidikannya, dan masyarakat dengan partisipasinya.
Semoga pelantikan HUDA Aceh Utara menjadi awal semakin eratnya komunikasi dan kemitraan antara ulama dan pemerintah. Sebab ketika kewenangan bertemu dengan ilmu, kebijakan bertemu dengan hikmah, dan program bertemu dengan keteladanan, insyaallah pembangunan akan lebih dekat dengan kemaslahatan masyarakat.
Pesan utama yang ingin penulis sampaikan: pemerintah tidak hanya membutuhkan mitra yang mampu membantu menjalankan program, tetapi juga mitra yang dapat membantu menjaga arah dan nilai dari program tersebut. Dan dalam konteks Aceh yang menjunjung tinggi syariat Islam, para ulama dan guru dayah adalah bagian penting dari perjalanan itu.

Opini — Oleh: Dr. Tgk. Saiful Bahri Ishak, S.Sos., M.A., Dosen Komunikasi Islam UNISAI Samalanga Bireuen
Baca Juga