Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 127 kejadian gempa bumi di Jawa Timur dan sekitarnya. Gempa-gempa ini terjadi selama periode 10 hingga 16 Juli 2026. Aktivitas kegempaan di kawasan tersebut masih tergolong tinggi, namun tidak menimbulkan dampak berarti bagi masyarakat.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menyampaikan data itu. Data tersebut berasal dari pemantauan jaringan sensor seismik BMKG di berbagai wilayah Jawa Timur. Ia menegaskan seluruh kejadian gempa pada periode ini tidak menimbulkan dampak signifikan. BMKG juga tidak menerima laporan warga yang merasakan gempa secara langsung.

Tren Kegempaan Jatim Sepanjang Juli

Angka 127 kejadian pada periode 10–16 Juli ini lebih rendah ketimbang pekan sebelumnya. Pada periode 3–9 Juli, BMKG mencatat 158 kejadian gempa bumi. Akhir Juni bahkan sempat mencatat 181 kejadian dalam sepekan, yakni pada 26 Juni hingga 2 Juli. Angka ini naik dari 175 kejadian pada periode 19–25 Juni, dan 157 kejadian pada 12–18 Juni.

Tren tersebut memperlihatkan sebuah pola. Jumlah kejadian gempa memang berfluktuasi dari minggu ke minggu. Namun, wilayah Jawa Timur tetap konsisten mencatat aktivitas seismik dalam skala ratusan kejadian. Pola ini berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026.

Penyebab Aktivitas Seismik Tinggi

Ricko menjelaskan penyebab tingginya aktivitas kegempaan di Jawa Timur. Menurutnya, kondisi geologi dan tektonik wilayah ini memang aktif. BMKG dalam berbagai laporan sebelumnya kerap menjelaskan hal serupa. Pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia memicu sebagian besar aktivitas ini. Pergerakan sejumlah patahan lokal di sekitar wilayah Jatim turut menyumbang kejadian gempa.

Kondisi geologis semacam ini menjadikan Jawa Timur salah satu wilayah dengan frekuensi gempa bumi relatif tinggi di Indonesia. Meski demikian, sebagian besar gempa ini berkekuatan kecil. Hanya sensor seismograf yang sensitif dapat merekam getarannya; manusia umumnya tidak merasakannya.

Imbauan BMKG kepada Masyarakat

BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tenang. BMKG juga meminta warga tidak mudah terpengaruh isu yang tidak bertanggung jawab terkait gempa bumi. Selain itu, BMKG akan terus memantau aktivitas seismik secara intensif sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

Masyarakat juga perlu terus mengikuti informasi resmi soal perkembangan aktivitas kegempaan. BMKG menyediakan informasi ini melalui beberapa kanal resmi, yakni situs web, media sosial, dan aplikasi InfoBMKG.


Penulis: bysuaramasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *