Ilustrasi anak korban bullying duduk menyendiri di lorong sekolah

Tidak semua korban bullying pulang dengan luka atau air mata. Ada anak yang tiba-tiba lebih pendiam, sering kehilangan barang, atau enggan kembali ke sekolah maupun pesantren. Namun, setiap kali orang tua bertanya, jawabannya tetap sama: “Saya tidak apa-apa.”

Kalimat itu sering menjadi tanda pertama yang orang tua lewatkan. Banyak anak memilih bungkam karena malu, takut dianggap lemah, atau khawatir masalah akan membesar jika orang tua tahu. Karena itu, cara mengatasi bullying pada anak selalu dimulai dari kepekaan orang tua membaca perubahan kecil.

Tanda Anak Mungkin Menjadi Korban Bullying

Setiap anak berbeda, dan satu tanda saja belum tentu berarti bullying. Namun, orang tua patut waspada bila beberapa tanda berikut muncul bersamaan atau berlangsung lama:

  • Perubahan sikap mendadak. Anak yang biasanya ceria menjadi murung, mudah marah, atau menarik diri dari keluarga.
  • Enggan berangkat sekolah atau kembali ke pondok. Anak mencari-cari alasan untuk tidak pergi, terutama menjelang hari belajar.
  • Keluhan fisik yang berulang. Sakit perut atau sakit kepala sering muncul di pagi hari, tetapi hilang saat libur.
  • Barang sering hilang atau rusak. Uang saku habis tanpa alasan jelas, buku robek, atau perlengkapan tidak kembali.
  • Luka atau memar tanpa penjelasan masuk akal. Anak menutupinya atau memberi cerita yang berubah-ubah.
  • Gangguan tidur dan makan. Anak sulit tidur, mimpi buruk, atau nafsu makannya berubah drastis.
  • Prestasi menurun. Anak kehilangan minat belajar dan sulit berkonsentrasi.
  • Kehilangan teman. Anak jarang menyebut nama teman, tidak lagi diajak bermain, atau menghindari kegiatan bersama.

Salah Langkah Bisa Membuat Anak Makin Tertutup

Saat anak akhirnya bercerita, reaksi pertama orang tua sangat menentukan. Pertanyaan seperti “Kenapa tidak melawan?” terdengar wajar, padahal bisa membuat anak merasa bersalah atas perlakuan yang ia terima.

Sebaliknya, orang tua yang langsung melampiaskan amarah kepada sekolah atau pondok belum tentu menyelesaikan masalah. Anak butuh perlindungan, dan orang tua perlu memberikannya dengan tenang.

Langkah Tepat Saat Anak Mengaku Dibully

  1. Dengarkan sampai selesai. Beri anak waktu bercerita tanpa memotong, menghakimi, atau langsung memberi solusi.
  2. Yakinkan bahwa ia tidak bersalah. Katakan dengan jelas bahwa perlakuan itu salah dan anak sudah benar karena berani bercerita.
  3. Catat kronologinya. Tulis apa yang terjadi, kapan, di mana, dan siapa yang terlibat. Catatan ini membantu saat berbicara dengan pihak sekolah atau pesantren.
  4. Tabayyun kepada lembaga. Temui wali kelas, guru BK, atau pengasuh pondok dengan kepala dingin. Sampaikan fakta, lalu minta penjelasan dan langkah penanganan.
  5. Jangan menyuruh anak membalas. Membalas dengan kekerasan berisiko membuat anak ikut disalahkan dan memperpanjang konflik. Lebih aman mengajari anak menjauh, mencari orang dewasa yang dipercaya, dan berani berkata “berhenti”.
  6. Bangun kembali rasa percaya dirinya. Libatkan anak dalam kegiatan yang ia sukai dan perbanyak waktu berkualitas bersama keluarga.
  7. Cari bantuan profesional bila perlu. Jika anak tampak sangat tertekan, sulit tidur dalam waktu lama, atau menyakiti diri, segera hubungi psikolog atau konselor.

Jika Bullying Terjadi di Pondok Pesantren

Anak yang mondok jauh dari orang tua, sehingga tanda-tandanya lebih sulit terlihat. Perhatikan perubahan nada suara saat menelepon, permintaan pulang yang tidak biasa, atau cerita yang terasa ditutupi. Jalin komunikasi baik dengan pengasuh atau musyrif sejak awal, sehingga orang tua bisa bertanya tanpa terkesan menuduh. Sebagian besar pesantren memiliki aturan tegas tentang perundungan dan siap menindaklanjuti laporan wali santri.

Ke Mana Melapor?

Selain sekolah atau pesantren, orang tua dapat menghubungi layanan pengaduan SAPA 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), atau UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak di daerah masing-masing.

Panduan Lengkap untuk Ayah dan Bunda

Rumah Santri menyusun panduan lebih lengkap yang membahas:

  • 10 tanda anak mungkin mengalami bullying, termasuk tanda yang sering orang tua anggap hal biasa;
  • kalimat yang sebaiknya Ayah dan Bunda ucapkan saat anak mulai bercerita;
  • cara melakukan tabayyun kepada sekolah atau pesantren tanpa menyudutkan lembaga;
  • alasan orang tua tidak perlu menyuruh anak membalas, serta bekal yang lebih aman untuk anak;
  • langkah khusus jika bullying terjadi di pondok, saat anak jauh dari orang tua.

👉 Baca panduan lengkapnya di Rumah Santri: Cara Mengatasi Bullying pada Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *