Kisah kepergian seorang kakek di Semarang mengundang haru sekaligus kekaguman warganet. Djumari bin Amin, pria berusia 76 tahun, menghembuskan napas terakhir saat mengikuti tadarus Al-Qur’an di Masjid Nurul Huda, Ngaliyan, Semarang. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026, tak lama setelah salat Magrib.

Rekaman CCTV memperlihatkan Djumari duduk melingkar bersama sepuluh jemaah pria lainnya. Mereka mengikuti pengajian rutin malam Sabtu yang biasa berlangsung hingga menjelang salat Isya. Di tengah kekhusyukan membaca Al-Qur’an, tubuh Djumari tiba-tiba ambruk dengan posisi kaki masih bersila.

Video Viral, Ditonton Lebih dari Satu Juta Kali

Putri Djumari, Yeni Nur Aini, kemudian membagikan rekaman kejadian itu lewat akun Instagram pribadinya. Warganet telah menonton video tersebut lebih dari satu juta kali hingga kini. Banyak warganet turut terharu sekaligus mengagumi cara kepergian sang kakek.

Takmir Masjid Nurul Huda, Rosidi, mengenal Djumari sebagai jemaah yang aktif mengikuti kegiatan keagamaan. Sebelum kondisi fisiknya menurun karena usia, Djumari bahkan pernah menjadi imam salat Magrib dan Isya di masjid tersebut. Sehari-hari, warga mengenalnya sebagai sosok pendiam namun konsisten menjalankan ibadah.

Diam-Diam Rajin Bersedekah

Keluarga baru mengetahui satu kebiasaan baik Djumari setelah kepergiannya. Ternyata, ia rutin bersedekah tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun. Yeni mengetahui hal ini hanya lewat percakapan WhatsApp mendiang ayahnya.

“Kalau mau melakukan apa pun enggak pernah bilang-bilang. Jadi hanya Bapak dan Allah yang tahu,” ujar Yeni menirukan sifat sang ayah.

Sebelum berangkat ke masjid pada hari kepergiannya, Djumari beraktivitas seperti biasa. Ia bahkan sempat menanyakan kabar cucunya. Djumari lalu berangkat menggunakan sepeda listrik menuju masjid, sesuai kebiasaannya sehari-hari.

Kesan Mendalam bagi Keluarga

Bagi keluarga, kepergian Djumari justru menghadirkan perasaan yang bercampur aduk. Yeni mengaku sedih kehilangan sosok ayah, namun juga merasa lega. Menurutnya, sang ayah pergi dalam kondisi terbaik, yakni saat sedang beribadah kepada Allah.

Momen melihat wajah sang ayah untuk terakhir kali turut meninggalkan kesan mendalam baginya. Yeni menggambarkan wajah ayahnya tampak cerah dan bersih. Bagi keluarga, ini menjadi tanda ketenangan yang menyertai kepergian Djumari.

Kisah Djumari mengingatkan banyak orang akan pentingnya istiqamah dalam beribadah. Konsistensinya mengikuti pengajian dan kebiasaannya bersedekah secara diam-diam menjadi teladan sederhana namun bermakna. Banyak yang berharap husnul khatimah serupa dapat menjadi penutup perjalanan hidup mereka kelak.


Penulis: bysuaramasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *