ATLANTA, SUARAMASA.ID – Harapan Inggris untuk tampil di final Piala Dunia 2026 pupus secara dramatis setelah kalah 1-2 dari Argentina pada laga semifinal di Atlanta Stadium, Rabu (15/7) waktu setempat. Sempat unggul lebih dulu melalui Anthony Gordon, The Three Lions justru kebobolan dua gol pada lima menit terakhir pertandingan dan harus mengubur mimpi mengakhiri penantian gelar dunia sejak 1966.
Jalannya Pertandingan
Inggris tampil disiplin sejak awal pertandingan. Thomas Tuchel menerapkan formasi 4-2-3-1 dengan pressing yang mampu membatasi ruang gerak Lionel Messi selama lebih dari satu jam.
Gol pembuka lahir pada menit ke-55 melalui Anthony Gordon setelah Inggris memanfaatkan transisi cepat. Saat itu pertandingan terlihat berada dalam kendali Inggris.
Namun situasi berubah drastis ketika Inggris memilih bertahan untuk mempertahankan keunggulan.
Argentina terus meningkatkan tekanan hingga akhirnya Enzo Fernández menyamakan kedudukan pada menit ke-85 melalui tembakan keras hasil situasi sepak pojok pendek yang diawali Lionel Messi.
Saat pertandingan memasuki masa tambahan waktu, Lautaro Martínez yang masuk sebagai pemain pengganti mencetak gol kemenangan lewat sundulan setelah menerima umpan silang Messi pada menit 90+2.
Statistik yang Menjelaskan Mengapa Inggris Kalah
Data pertandingan memperlihatkan dominasi Argentina hampir di seluruh aspek permainan.
- Penguasaan bola: Argentina 64% – Inggris 36%
- Tembakan tepat sasaran: Argentina 5 – Inggris 2
- Expected Goals (xG): Argentina 1,84 – Inggris 0,53
- Umpan akurat: Argentina 537 (91%) – Inggris 272 (84%)
- Peluang besar: Argentina 3 – Inggris 1
Angka tersebut menunjukkan Argentina terus mengendalikan permainan, sementara Inggris semakin sulit keluar dari tekanan setelah unggul.
Titik Balik: Strategi Bertahan Thomas Tuchel
Banyak pengamat menilai keputusan Thomas Tuchel menjadi titik balik pertandingan.
Setelah unggul, Inggris mengubah pendekatan menjadi lebih defensif dengan menumpuk pemain di area pertahanan. Reuters mencatat sejak mencetak gol hingga kebobolan gol kemenangan, Inggris hanya menguasai sekitar 12 persen bola. Argentina memanfaatkan situasi tersebut untuk terus menggempur pertahanan lawan hingga akhirnya membalikkan keadaan.
Kapten Inggris Harry Kane juga mengakui timnya terlalu fokus mempertahankan keunggulan dibanding mencari gol kedua.
“Kami mencoba mempertahankan keunggulan, tetapi itu tidak cukup di level seperti ini,” ujar Kane.
Peran Lionel Messi
Walaupun tidak mencetak gol, Lionel Messi menjadi pembeda dalam pertandingan.
Pada babak pertama Messi berhasil dibatasi oleh lini tengah Inggris. Namun memasuki babak kedua ia lebih sering bergerak ke sisi kanan dan mulai menemukan ruang untuk menciptakan peluang.
Messi berperan dalam sepak pojok pendek yang menghasilkan gol Enzo Fernández, kemudian memberikan assist untuk gol kemenangan Lautaro Martínez.
Penampilan tersebut kembali menunjukkan kualitas Messi sebagai kreator serangan utama Argentina.
Penggantian Pemain Argentina Berbuah Manis
Lionel Scaloni menunjukkan keberanian dengan melakukan pergantian yang meningkatkan intensitas serangan.
Masuknya Lautaro Martínez memberikan tenaga baru di lini depan. Keputusan itu terbukti tepat setelah sang penyerang mencetak gol kemenangan hanya beberapa menit setelah masuk ke lapangan.
Kunci Kemenangan Argentina
Ada empat faktor utama yang membawa Argentina ke final:
- Tetap menguasai bola meski tertinggal.
- Messi berhasil menemukan ruang pada fase akhir pertandingan.
- Pergantian pemain efektif dari Lionel Scaloni.
- Inggris terlalu cepat bermain bertahan sehingga kehilangan kontrol permainan.
Inggris Kembali Gagal di Momen Penentuan
Kekalahan ini kembali memperpanjang penantian Inggris menuju final Piala Dunia sejak menjadi juara pada 1966.
Sementara itu, Argentina memastikan tempat di partai puncak dan akan menghadapi Spanyol dalam laga final Piala Dunia 2026. Inggris selanjutnya akan menghadapi Prancis dalam perebutan tempat ketiga.