Kisah ini menceritakan seorang perempuan dari Bani Dinar yang kehilangan orang-orang sangat dekat dengannya dalam Perang Uhud. Ayahnya gugur, suaminya gugur, saudaranya gugur, dan sebagian riwayat menyebutkan anaknya pula gugur.

Namun ketika berita tentang banyaknya korban sampai kepadanya, pertanyaan yang pertama kali keluar dari lisannya bukan tentang keluarganya.

Ia justru bertanya:

مَا فَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ؟

“Bagaimana keadaan Rasulullah ﷺ?”

Orang-orang memberitahukan bahwa Rasulullah ﷺ dalam keadaan selamat. Tetapi ia belum merasa tenang. Ia kemudian berkata:

أَرُونِيهِ حَتَّى أَنْظُرَ إِلَيْهِ

“Perlihatkan kepadaku beliau, agar aku dapat melihatnya.”

Ketika akhirnya ia melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan selamat, ia berkata:

كُلُّ مُصِيبَةٍ بَعْدَكَ جَلَلٌ

“Setiap musibah setelah engkau selamat menjadi ringan.”

Kalimat yang sangat pendek, tetapi menggambarkan cinta yang begitu dalam.

Bayangkan seorang perempuan yang baru saja kehilangan orang-orang yang ia cintai. Dalam keadaan seperti itu, secara manusiawi tentu ia berhak menangis, berduka, dan merasakan kehilangan yang sangat berat.

Namun yang pertama memenuhi pikirannya adalah:

“Bagaimana keadaan Rasulullah?”

Bukan karena ia tidak mencintai keluarganya. Justru sebaliknya, kisah ini menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Rasulullah ﷺ telah mencapai kedudukan yang sangat tinggi dalam hatinya.

Baginya, selama Rasulullah ﷺ selamat, musibah sebesar apa pun masih terasa ringan.

Inilah salah satu gambaran cinta para sahabat kepada Rasulullah ﷺ. Mereka tidak hanya mengucapkan bahwa mereka mencintai beliau, tetapi cinta itu benar-benar hidup dalam hati dan tercermin dalam sikap mereka.

Mereka rela kehilangan, asalkan Rasulullah ﷺ selamat.

Dan mungkin di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Sejauh mana kita mencintai Rasulullah ﷺ?


Penulis: Tgk. Muhammad Khaidir, Lc., M.Dipl.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *