Akhirnya, FIFA resmi membatalkan rencana kontroversial penjualan saham Piala Dunia. Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengumumkan pembatalan tersebut pada Jumat malam waktu setempat. Keputusan ini muncul setelah tiga konfederasi sepak bola dunia menolak keras rencana tersebut.
Sebelumnya, UEFA menggelar rapat darurat pada Kamis. Sebanyak 55 anggota UEFA sepakat secara bulat memboikot seluruh kompetisi FIFA. Boikot ini termasuk Piala Dunia putra dan putri, apabila rencana penjualan saham tetap berjalan. Ancaman ini menjadi pukulan telak bagi rencana besar Infantino.
Tidak berhenti di situ, CONCACAF dan Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC turut menyatakan penolakan mereka. Pada akhirnya, ketiga konfederasi besar ini memaksa Infantino mengubah keputusannya. FIFA pun mengonfirmasi bahwa mereka resmi membatalkan proyek FIFA Forward Enterprise.
UEFA Tetap Serang Balik Meski FIFA Mundur
Meski FIFA sudah membatalkan rencananya, UEFA tidak serta-merta melunak. Badan sepak bola Eropa ini menegaskan Infantino telah kehilangan kepercayaan mereka. UEFA bahkan menyebut skema tersebut sebagai kesepakatan rahasia yang tidak transparan.
“Kita tidak bisa terus begini, dengan skema rahasia dan tergesa-gesa yang segelintir pihak tanpa identitas jelas ciptakan,” tegas UEFA. Badan ini menegaskan kepemimpinan FIFA saat ini telah kehilangan kepercayaan UEFA. Bahkan, banyak pihak lain dalam keluarga besar sepak bola dunia juga kehilangan kepercayaan yang sama.
Sementara itu, AFC dan CONCACAF memilih menyambut keputusan FIFA dengan nada lebih diplomatis. Kedua konfederasi ini menyatakan menerima pembatalan tersebut tanpa melontarkan kritik setajam UEFA.
Penasihat Senior Mengundurkan Diri, Krisis Kepemimpinan Mengancam
Tekanan terhadap Infantino semakin besar setelah penasihat seniornya, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri. Ia mundur sebagai bentuk protes sebelum FIFA akhirnya membatalkan rencana tersebut. Pengunduran diri ini menambah kesan bahwa krisis internal FIFA semakin dalam.
Selain itu, Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia, Lise Klaveness, turut angkat bicara. Publik mengenalnya sebagai kritikus lama Infantino di kancah sepak bola internasional. Klaveness menegaskan bahwa kepentingan segelintir pihak sempat mempertaruhkan seluruh kerangka kerja sama sepak bola internasional. Kepentingan itu bukan demi kepentingan terbaik olahraga ini.
Berbeda dari mayoritas, Qatar justru menjadi salah satu suara pendukung Infantino. Presiden Asosiasi Sepak Bola Qatar menyatakan dukungan penuh terhadap sang presiden FIFA lewat pernyataan resmi di media sosial.
Masa Depan Kepemimpinan Infantino Dipertanyakan
Akibatnya, kontroversi ini turut memunculkan pertanyaan besar soal masa depan kepemimpinan Infantino di FIFA. Sejumlah pengamat menilai kecil kemungkinan ia melanjutkan masa jabatan terakhirnya tanpa perlawanan berarti. Konfederasi besar dunia memberi tekanan yang sulit FIFA abaikan begitu saja.
Kontroversi ini bermula dari rencana Infantino menjual saham minoritas anak perusahaan FIFA Forward Enterprise senilai 20 miliar dolar AS. Investor utama yang terlibat berasal dari Thrive Capital, perusahaan milik Joshua Kushner, adik kandung menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keterlibatan lingkaran Trump inilah yang sejak awal memicu kekhawatiran publik soal transparansi tata kelola FIFA.
Pada akhirnya, kasus ini membuktikan betapa besarnya kekuatan konfederasi sepak bola dunia ketika bersatu menolak sebuah kebijakan. Publik sepak bola dunia kini menanti langkah selanjutnya dari FIFA, sekaligus mempertanyakan bagaimana masa depan kepemimpinan Gianni Infantino ke depannya.
Penulis: bysuaramasa