Sebuah kisah inspiratif datang dari Yogyakarta. Warga akrab menyapanya Mbah Sutopo. Ia menghiasi becak listriknya dengan puluhan buku bacaan dari berbagai genre. Di usianya yang tidak lagi muda, semangat pensiunan TNI Angkatan Darat ini dalam menyebarkan literasi masih membara.
Namun, buku-buku yang menghiasi becak Mbah Sutopo bukan sekadar pajangan. Setiap penumpang maupun warga sekitar bebas membaca koleksi tersebut kapan saja. Mereka bisa menikmati perjalanan sambil menambah wawasan sekaligus ilmu pengetahuan baru.
Bermula dari Lima Buku Sumbangan
Kebiasaan mengoleksi buku ini sebenarnya sudah Mbah Sutopo lakukan sejak lama. Ia mulai mengumpulkan buku sejak 2004, saat itu masih menggunakan becak kayuh tradisional. Awalnya, ia hanya memiliki lima buku saja.
Semua bermula ketika seorang ibu melihatnya membaca di dekat SD Tarakanita Bumijo. Ibu itu bertanya apakah Mbah Sutopo senang membaca, lalu menawarkan sumbangan buku. “Akhirnya disumbang 50 buku oleh ibu itu,” kenang Mbah Sutopo. Sejak momen itu, donasi buku terus mengalir dari berbagai penjuru.
Sumbangan Buku Mengalir dari Berbagai Kota
Kini, koleksi buku Mbah Sutopo berasal dari sumbangan warga, perpustakaan, hingga penerbit. Bahkan, ada toko buku di Bali yang pernah mengirimkan satu dus penuh buku untuknya. Koleksinya terus berkembang hingga mencapai ratusan judul, sebagian ia simpan di becak dan sebagian lagi di rumah.
Perjalanan literasi Mbah Sutopo mendapat dukungan besar pada 2024. Ketika itu, Pemerintah Daerah DIY memberikan bantuan unit becak listrik kepadanya. Dengan demikian, Becak Pustaka miliknya semakin mudah menjangkau lebih banyak pembaca di berbagai penjuru Yogyakarta.
Ingin Terus Meliterasi Masyarakat hingga Usia Seratus Tahun
Mbah Sutopo membebaskan siapa pun meminjam bukunya, kapan pun dan di mana pun mereka membacanya. Bahkan, ia tidak pernah mempermasalahkan jika ada peminjam yang lupa mengembalikan buku. Baginya, kebiasaan meminjam ini sekaligus mendidik masyarakat untuk bersikap jujur dan berkarakter baik.
Meski usianya sudah senja, semangat Mbah Sutopo tidak surut. Ia berharap dapat terus hidup sehat dan terus meliterasi masyarakat hingga mencapai usia seratus tahun. Kisah sederhana namun penuh makna ini membuktikan bahwa semangat berbagi ilmu tidak pernah mengenal batas usia.
Penulis: bysuaramasa