Sering kita lihat, seseorang datang ke kuburan orang yang ia cintai, duduk di samping pusara, lalu mulai mencurahkan isi hatinya. Misalnya, seorang anak duduk di sisi makam ayah atau ibunya. Ia berkata, “Ayah, aku sedang punya masalah, doakan aku biar tetap kuat ya” atau “Ibu, aku sangat merindukanmu”.
Ada yang menganggapnya aneh, ada pula yang mempertanyakan, “Untuk apa berbicara kepada orang yang sudah meninggal dunia? Bukankah dia sudah tidak bisa mendengar?”
Tapi benarkah demikian?
Pertanyaan Pertama: Apakah Mayat Mendengar Ucapan Orang yang Masih Hidup?
Jawaban:
Ya, mereka mampu mendengarnya.
Di antara dalil paling kuat adalah peristiwa setelah perang Badar. Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan orang-orang musyrik yang telah terbunuh dan mengucapkan beberapa patah kata kepada mereka. Kemudian Umar bin Khattab bertanya, bagaimana mungkin mereka mendengar, sedangkan mereka telah menjadi mayat. Nabi ﷺ menjawab:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ لَا يَقْدِرُونَ أَنْ يُجِيبُوا»
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian tidak lebih mampu mendengar apa yang aku katakan daripada mereka (yang sudah wafat), tetapi mereka tidak mampu menjawab.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pertanyaan Kedua: Apakah Orang yang Telah Meninggal Dunia Dapat Mendoakan yang Masih Hidup?
Jawaban:
Di sinilah terdapat pembahasan yang sangat menarik dalam Kitab al-Rūḥ karya Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah.
Ibn al-Qayyim menukil perkataan ‘Abdullah bin al-Mubarak:
قال عبد الله بن المبارك: حدثني ثور بن يزيد، عن أبي رُهْم، عن أبي أيوب قال: تُعْرَضُ أعمالُ الأحياء على الموتى، فإذا رأوا حسنًا فرحوا واستبشروا، وإن رأوا سوءًا قالوا: اللهم راجعْ به.
Artinya:
“Abdullah bin al-Mubarak berkata: Tsaur bin Yazid menceritakan kepadaku, dari Ibrahim, dari Abu Ayyub, ia berkata: ‘Amal-amal orang yang masih hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang telah meninggal. Apabila mereka melihat kebaikan, mereka bergembira dan bersuka cita. Apabila mereka melihat keburukan, mereka berkata: Ya Allah, kembalikanlah dia kepada kebaikan.'”
Kesimpulan
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa:
- Mayat dapat mendengar perkataan orang yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah ﷺ berbicara kepada orang-orang yang terbunuh dalam perang Badar.
- Mayat masih dapat mendoakan orang yang masih hidup, sebagaimana atsar yang Ibn al-Qayyim nukil.
Maka, seorang anak boleh datang ke makam ayah atau ibunya. Ia boleh mengucapkan salam, mencurahkan kerinduan, dan berbicara tentang kesedihan yang ia rasakan. Orang lain tidak semestinya langsung mencela atau menganggapnya aneh. Orang lain juga tidak semestinya mencapnya melakukan sesuatu yang haram. Sebab, agama membolehkan semua itu selama tidak ada unsur yang terlarang.
Wallaahu A’lam.

Penulis: Tgk. Muhammad Khaidir, Lc., M.Dipl.