Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengumumkan rencana kontroversial pada Selasa lalu. FIFA berencana menjual saham minoritas anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise, atau FFE. Perusahaan ini nantinya akan mengelola sejumlah kompetisi bergengsi, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
Sebagai gambaran, FIFA menetapkan valuasi awal FFE sebesar 20 miliar dolar AS, setara sekitar Rp327 triliun. Melalui skema ini, FIFA menargetkan meraup dana hingga 4,2 miliar dolar AS dari investor swasta. Investor nantinya hanya akan memperoleh saham minoritas tanpa hak pengendalian penuh atas perusahaan.
Selain itu, FIFA mengklaim skema ini bisa mendatangkan lebih dari 10 miliar dolar AS untuk program pengembangan sepak bola dunia. Dana tersebut rencananya cair dalam kurun waktu empat tahun ke depan. FIFA turut melibatkan bank investasi JP Morgan sebagai penasihat keuangan dalam proyek besar ini.
Keterlibatan Keluarga Trump Jadi Sorotan
Menariknya, salah satu calon investor utama FFE adalah Thrive Capital. Joshua Kushner memimpin perusahaan investasi tersebut. Publik menyoroti fakta ini karena Joshua merupakan adik kandung Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Akibatnya, keterlibatan lingkaran keluarga Trump ini semakin memperkeruh kontroversi rencana penjualan saham FFE. Sejumlah pihak mempertanyakan transparansi proses seleksi investor. Mereka juga khawatir kepentingan bisnis dan politik saling bercampur dalam pengelolaan turnamen sebesar Piala Dunia.
UEFA Bereaksi Keras, Ancam Boikot
UEFA, badan sepak bola Eropa, langsung memberikan tanggapan keras atas rencana FIFA tersebut. Mereka menyebut langkah Infantino telah “melewati batas” kewenangan FIFA. UEFA menegaskan siapa pun tidak layak memperjualbelikan jiwa dan tata kelola sepak bola.
Dengan tegas, UEFA menekankan tidak ada pihak yang benar-benar memiliki sepak bola, termasuk FIFA sekalipun. Mereka juga mempertanyakan transparansi penuh soal siapa saja yang akan meraup keuntungan finansial dari skema ini. Kritik ini semakin mempertajam rivalitas lama antara FIFA dan UEFA.
Menariknya, kabar menyebut UEFA tengah mempertimbangkan pertemuan darurat secara virtual pekan ini. Sejumlah sumber bahkan menyebut adanya kemungkinan ancaman boikot jika Infantino tetap melanjutkan rencana tersebut. Situasi ini berpotensi memicu ketegangan besar dalam tata kelola sepak bola dunia.
Kritik Juga Datang dari Pemerintah Inggris
Menariknya, kritik terhadap rencana FIFA ini tidak hanya datang dari kalangan sepak bola semata. Perdana Menteri Inggris turut angkat bicara lewat media sosial. Ia menegaskan sepak bola adalah milik masyarakat yang setia memenuhi tribun stadion, bukan milik para investor.
Di tengah tekanan itu, FIFA berupaya meredam gelombang kritik yang terus berdatangan. Juru bicara FIFA menjelaskan pihaknya baru memulai proses konsultasi usai menerima proposal tersebut. Mereka menegaskan skema ini masih dalam tahap peninjauan dan belum menjadi keputusan final.
Rencana ini juga tetap membutuhkan persetujuan resmi dari seluruh asosiasi anggota FIFA sebelum FIFA bisa merealisasikannya. Proses ini kemungkinan besar akan memakan waktu panjang mengingat besarnya penolakan yang muncul sejauh ini. Publik sepak bola dunia kini menanti kelanjutan drama tata kelola terbesar dalam sejarah FIFA modern ini.
Penulis: bysuaramasa