Ada kebaikan yang ingin orang lihat, ada pula kebaikan yang justru bersembunyi dalam gelap. Kisah Abu Thalhah adalah tentang jenis kebaikan yang kedua.

Malam itu, sebuah lampu sengaja padam. Namun, dari kegelapan itulah Allah menurunkan cahaya berupa ayat yang kita baca sampai hari ini.

Tamu yang Datang dalam Lapar

Suatu hari, seorang lelaki datang menemui Rasulullah ﷺ. Ia berkata, “Aku sangat lapar.”

Rasulullah ﷺ lalu mengirim utusan ke rumah istri-istri beliau. Akan tetapi, jawaban yang datang selalu sama: “Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak punya apa-apa kecuali air.”

Bayangkan. Rumah manusia paling mulia di muka bumi tidak menyimpan sepotong roti pun malam itu.

Kemudian, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang mau menjamu tamu ini malam ini?”

Seorang lelaki Anshar segera berdiri. “Saya, wahai Rasulullah.” Riwayat Imam Muslim menyebut namanya: Abu Thalhah.

Makanan yang Hanya Cukup untuk Anak-Anak

Abu Thalhah membawa tamu itu pulang. Lalu, ia berbisik kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ.”

Istrinya menjawab pelan, “Kita tidak punya apa-apa, kecuali makanan untuk anak-anak.”

Di titik ini, kebanyakan orang mungkin akan mundur. Apalagi, tidak ada yang akan menyalahkan seorang ayah yang memilih memberi makan anaknya sendiri.

Namun, Abu Thalhah memilih jalan yang lain. “Hiburlah anak-anak dengan sesuatu,” katanya. “Jika mereka ingin makan malam, tidurkanlah mereka.”

Rencana Kecil di Rumah yang Sederhana

Setelah itu, Abu Thalhah menyusun rencana sederhana bersama istrinya. “Ketika tamu kita masuk, padamkan lampu. Lalu, kita perlihatkan seolah-olah kita ikut makan.”

Sang istri pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Kemudian, ia berdiri seakan hendak memperbaiki lampu, padahal ia memadamkannya.

Dalam gelap, mereka duduk bersama tamu itu. Tangan mereka bergerak seolah menyuap, tetapi tidak ada makanan yang masuk ke mulut mereka.

Akhirnya, tamu itu makan sampai kenyang. Sementara itu, Abu Thalhah, istrinya, dan anak-anaknya melewati malam dengan perut kosong.

Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang memuji. Hanya gelap yang menjadi saksi.

Allah Menyaksikan dalam Gelap

Esok paginya, Abu Thalhah datang menemui Rasulullah ﷺ. Belum sempat ia bercerita, Rasulullah ﷺ sudah bersabda:

“Sungguh, Allah kagum terhadap apa yang kalian berdua lakukan kepada tamu kalian tadi malam.”

Bahkan, Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam QS. Al-Hasyr ayat 9:

«وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ»

“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Siapa saja yang Allah jaga dari kekikiran dirinya, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Pelajaran dari Kisah Abu Thalhah

Coba renungkan. Abu Thalhah sengaja memadamkan lampu agar tamunya tidak merasa sungkan. Ia bukan hanya memberi makanan, tetapi juga menjaga harga diri orang yang ia beri.

Inilah puncak memberi dalam Islam, yaitu itsar. Artinya, kita mendahulukan orang lain, bahkan ketika kita sendiri sedang membutuhkan.

Hari ini, kita hidup di zaman ketika kebaikan sering kita rekam, kita unggah, lalu kita tunggu pujiannya. Padahal, kisah Abu Thalhah mengingatkan bahwa Allah tetap melihat, meski lampu sedang padam.

Selain itu, kebaikan semacam ini tidak menunggu kita kaya. Abu Thalhah memberi justru ketika rumahnya hampir kosong.

Pedoman Hidup dari Kisah Abu Thalhah

Maka, setiap kali kita hendak berbuat baik, ingatlah satu nasihat ini:

“Berbuat baiklah seolah lampu sedang padam. Biarlah manusia tidak melihat, karena Allah tidak pernah memejamkan pandangan-Nya.”

Sumber: HR. Bukhari no. 3798, HR. Muslim no. 2054, QS. Al-Hasyr: 9.

Penulis: Tgk. H. Azwar, M.H.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *