Terikat Tubuhnya, Tapi Hatinya Memikirkan Anak
Tubuhnya sedang terikat. Nyawanya berada dalam bahaya. Namun, yang ia pikirkan bukan keselamatan dirinya sendiri — ia justru mengingat anak-anaknya, yang sedang menunggu dalam keadaan lapar.
Qasidah Aceh yang masyhur, Aneuk Glueh, mengisahkan seekor induk kijang yang tertangkap dan diikat oleh seorang pemburu. Ketika Rasulullah ﷺ melintas di dekat tempat itu, terjadilah sebuah peristiwa yang kelak menjadi salah satu mukjizat paling menyentuh hati: kijang itu berbicara.
Rasulullah Menjadi Penjamin Sang Kijang
Imam Abu Nu’aim mencatat riwayat ini dalam kitab al-Hilyah. Seorang lelaki melintas di hadapan Nabi ﷺ sambil membawa seekor kijang tangkapannya. Kijang itu pun memohon — bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menemui anak-anaknya yang baru lahir dan belum mendapat susu. Ia seakan berkata, “Izinkan aku pergi sebentar untuk menyusui anak-anakku. Setelah mereka kenyang, aku akan kembali kepada ikatan ini.”
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ langsung bersedia menjaminnya. Beliau berkata kepada si penangkap, “Lepaskanlah kijang ini sebentar, aku yang menjaminnya.” Si pemburu pun melepaskan tali itu. Kijang tersebut segera berlari menembus hutan menuju sarangnya.
Anak Kijang yang Menolak Menyusu
Sesampainya di sarang, induk kijang menceritakan semuanya kepada kedua anaknya: bagaimana ia tertangkap, bagaimana Rasulullah ﷺ menjaminnya agar bisa pulang sejenak, dan bahwa ia harus segera kembali ke ikatan itu setelah mereka menyusu.
Akan tetapi, alih-alih segera menyusu seperti biasanya, kedua anak kijang justru menjawab dengan suara parau, “Kami tidak akan menyusu, Ibu. Selama Ibu belum menepati janji dengan Muhammad, jangan pikirkan makanan kami. Toh air masih ada di genangan hujan dan di kubangan tanah — di situ kami akan minum. Karena itu, pergilah dulu, Ibu, tepati janjimu.”
Coba bayangkan momen itu. Dua anak kijang yang masih kecil, yang seharusnya menangis kelaparan menanti susu ibunya, justru menahan lapar mereka sendiri demi satu hal yang mereka pahami sepenuhnya: ibu mereka telah berjanji, dan janji itu ditujukan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka rela menahan perih di perut, asalkan ibunya tidak menanggung dosa mengingkari janji.
Induk kijang pun menangis mendengar jawaban itu. Setelah memeluk anak-anaknya sejenak, ia berlari kembali menembus hutan, lalu memasukkan lehernya sendiri ke dalam tali — kembali menjadi tawanan, persis seperti janjinya.
Yahudi yang Tergerak Hatinya
Orang-orang menyaksikan kijang itu benar-benar kembali, padahal hutan luas terbentang dan ia sebenarnya bisa melarikan diri kapan saja. Karena peristiwa itulah, si penangkap dan sejumlah orang Yahudi yang menyaksikannya jadi tergerak hatinya. Mereka pun menyadari bahwa seekor binatang saja begitu setia pada janji yang dijamin oleh Nabi ﷺ, sehingga mustahil rasanya jika mereka terus mengingkari kebenaran risalah yang beliau bawa. Pada akhirnya, kijang itu benar-benar dibebaskan untuk selamanya.
Hati Seorang Ibu yang Tak Pernah Berubah
Begitulah hati seorang ibu. Tubuhnya boleh terluka, tapi ia tetap bertanya, “Apakah anakku sudah makan?” Hatinya boleh menangis, tapi di hadapan anaknya ia tetap berusaha tersenyum. Ia rela menahan sakit sendirian, asalkan anaknya tidak ikut merasakan kesedihan.
Jika Allah menanamkan kasih sebesar itu dalam hati seekor kijang, maka betapa luas pula kasih yang Allah titipkan dalam hati seorang ibu.
Sayangnya, seekor kijang rela kembali kepada ikatannya demi menepati janji, sementara kita justru sering kali terlalu sibuk hanya untuk menjawab panggilan ibu. Bahkan, tak jarang kita merasa terganggu saat ibu mengulang pertanyaan yang sama. Padahal dahulu, ibu tidak pernah bosan mendengar tangisan kita yang sama, setiap malam.
Karena itu, jika ibumu masih hidup, pulanglah. Peluklah ia, dan lembutkan suaramu di hadapannya. Jangan sampai kamu menunggu rumahnya kosong untuk baru menyadari bahwa orang yang paling setia menunggumu ternyata sudah tidak bisa ditemui lagi.
Sebaliknya, jika ibumu telah tiada, jangan biarkan namanya hilang dari doamu.
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku masih kecil.”
Tiga Hikmah dari Kisah Aneuk Glueh
Pertama, janji harus ditepati. Induk kijang sebenarnya punya banyak alasan untuk mengingkari janjinya — hutan luas, kebebasan di depan mata, bahkan ancaman maut jika ia kembali. Meski begitu, ia tetap memilih menepati kesepakatan itu, karena yang menjaminnya adalah Rasulullah ﷺ. Dari sini kita belajar bahwa janji, sekecil apa pun bentuknya, tetap merupakan amanah yang wajib ditunaikan.
Kedua, kasih sayang ibu tidak mengenal ancaman nyawa. Bahkan dalam bahaya sekalipun, induk kijang tetap memikirkan anak-anaknya lebih dulu ketimbang keselamatannya sendiri. Gambaran ini menunjukkan bagaimana seorang ibu selalu mendahulukan anaknya di atas segalanya.
Ketiga, anak yang memahami keadaan ibunya. Bagian paling menyentuh dari kisah ini sebetulnya bukan hanya pengorbanan sang ibu, melainkan juga kedewasaan anak-anaknya yang rela menahan lapar demi melihat ibunya menunaikan janji. Karena itu, kisah ini mengingatkan kita bahwa bakti kepada orang tua terkadang berarti merelakan kepentingan sendiri, asalkan orang tua bisa tenang.

Penulis: Tgk. H. Azwar, M.H