Nabi Muhammad ﷺ belum sempat lahir ke dunia, namun beliau sudah menyandang status yatim.
Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muttalib, wafat di Yatsrib saat pulang dari perjalanan dagang. Ketika itu, ibunya, Sayyidah Aminah, masih mengandungnya. Belum genap ia lahir ke dunia, status yatim sudah lebih dulu melekat padanya.
Bayangkan. Manusia paling mulia sepanjang sejarah memulai hidupnya tanpa pernah merasakan pelukan seorang ayah. Dialah kekasih Allah yang umat manusia sebut namanya lima kali sehari dalam azan dan shalat.
Tidak berhenti di situ. Ketika usianya baru enam tahun, ibunya pun berpulang. Lengkaplah kesendirian itu. Sang kakek, Abdul Muttalib, sempat mengasuhnya dengan penuh kasih, namun dua tahun kemudian beliau pun wafat. Nabi Muhammad kecil kembali kehilangan.
Mengapa Allah Memilih Jalan Ini?
Mengapa Allah memilih jalan seperti ini bagi kekasih-Nya?
Al-Qur’an menjawabnya dengan lembut:
﴿أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ﴾
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?” (QS. Ad-Dhuha: 6)
Allah sendiri yang menjadi pengganti. Ketika tidak ada ayah yang menggendong, Allah yang menjaga. Ketika tidak ada tangan manusia yang melindungi, tangan Allah yang menaungi.
Di sinilah letak salah satu hikmah terbesar dari kisah kelahiran Nabi.
Yatim bukan tanda bahwa Allah tidak menyayangi seorang hamba. Yatim bukan pertanda bahwa hidup seseorang akan berakhir dalam kekurangan dan kehinaan. Buktinya nyata di hadapan kita: seorang yatim tumbuh menjadi manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
Barangkali, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang besar. Barangkali, kesendirian yang seseorang rasakan hari ini justru sedang membentuk kekuatan yang kelak akan menopang amanah yang jauh lebih besar.
Kedudukan Mulia Penyantun Anak Yatim
Karena merasakan sendiri betapa perihnya kehilangan sejak kecil, Rasulullah ﷺ tumbuh menjadi sosok yang begitu lembut kepada anak-anak yatim. Beliau bersabda:
«أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا»
“Aku dan orang yang mengasuh anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)
Begitu dekat. Begitu istimewa kedudukan orang yang mau menyantuni anak yatim, hingga Rasulullah menggambarkannya dengan dua jari yang tidak berjarak.
Menjelang hari kelahirannya, mari kita renungkan sejenak. Di sekitar kita, mungkin ada anak yatim yang sedang menahan sepi. Mungkin ada anak yang malam ini tidur tanpa pelukan ayah, tanpa kehangatan yang sempurna.
Mereka bukan kekurangan kasih sayang Allah. Sama seperti Nabi kita, boleh jadi Allah sedang menitipkan mereka kepada kita. Allah ingin agar kita yang mengulurkan tangan, agar kita yang menjadi jalan penjagaan-Nya bagi mereka di dunia ini.
Selamat menyambut kelahiran manusia paling mulia, yang datang ke dunia ini sebagai seorang yatim. Semoga kita semua belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah kemuliaan yang belum tentu kita duga.

Penulis: Tgk.H. Azwar, M.H